“Negata yang takut pada Mahasiswa dan Intelektual adalah negara yang moralnya bangkrut. Mahasiswa dan Intwlektual yang berani akan memulihkan kebangkrutan moral itu”._
Yap Yun Hap adalah salah satu dari yang berani itu!
Porosmedia.com – Yap Yun Hap tumbuh di rumah sederhana dan sempit di Tanjung Duren Timur, Jakarta Barat. Di dalamnya terpajang beberapa piala. Ayahnya, *Yap Pit Sing*, hanya lulusan SD dan bekerja di sebuah toko di sekitar Glodok, bukan toko miliknya sendiri. Kata istrinya, *Ho Kim Ngo*, ia bekerja setiap hari. Dari kaleng-kaleng cat yang ia angkat dan debu toko yang ia hirup, lahirlah seorang anak yang cerdasnya bukan main.
Yun Hap membalas kerja keras itu dengan prestasi. Sejak SD sampai SMA ia juara kelas dan juara olimpiade. Lalu ia menembus Teknik Elektro, Fakultas Teknik Universitas Indonesia angkatan 1996.
la tak ingin menambah beban ayahnya, jadi ia membiayai kuliahnya sendiri. la membuka bimbingan belajar dan menjadi guru bagi anak-anak lain supaya tetap bisa menjadi mahasiswa di Ul. Teman-temannya menjulukinya “*Singa Teknik Abadi*.”
“_*Saya sekolah di UI, rakyat yang membiayai, yang mensubsidi. Maka saya harus berjuang untuk rakyat*_.” kata Yun Hap.
Tepat 27 tahun yang lalu, tepat 24 September 1999, Yun Hap turun ke jalan bersama ribuan mahasiswa menolak RUU Penanggulangan Keadaan Bahaya. Jumat pagi ia pulang pukul 09.00 WIB, untuk makan, lalu bersiap kembali ke Depok. Ibunya menahan, karena tahun itu dipercaya sebagai tahun sial bagi yang bershio ular, dan Yun Hap lahir pada 17 Oktober 1977, di tahun ular. Tapi ia bersikeras, seolah tak mau menentang takdir.
Sekitar pukul 20.00, ia duduk di jalur hijau dekat jalan masuk RS Jakarta, menunggu kembali ke kampus bersama teman-temannya. Dari arah Thamrin, truk-truk tentara melaju kencang dengan semua lampu depan menyala.
Lalu terdengar rentetan tembakan. *Yap Yun Hap tewas tertembak di sekitar kawasan Kampus Universitas Katolik Atma Jaya (Semanggi). la berusia 21 tahun*.
Ayahnya hancur. “*_Biar bapaknya jadi kuli, jadi buruh. Anak yang diharapkan bisa mengangkat harkat dan derajat, kok jadinya begini_*,” katanya kepada Kompas, sehari setelah kematian putranya. Luka itu tak pernah sembuh.
Yun Hap bukan satu-satunya yang gugur. Bersamanya ada Yusuf Rizal, Saidatul Fitria, Meyer Ardiyansyah, Deny Yulian, Tejo Sukmono, Zainal Abidin, dan Fadli. Sebelum mereka ada Elang Mulya Lesmana, Hafidin Royan, Hendriawan Sie, dan Heri Hartanto di depan kampus Universitas Trisakti (Mei 1998), serta Wawan dan kawan-kawannya di Semanggi I.
Komnas HAM telah menyelesaikan penyelidikannya sejak Maret 2002. Namun berkas itu bolak-balik dikembalikan oleh Kejaksaan Agung, dengan alasan yang berganti-ganti, bahkan tanpa alasan. Padahal jalannya sudah tersedia lewat UU No. 26/2000: Pengadilan HAM ad hoc.
Setiap 24 September kita memperingati Yap Yun Hap.
Tapi di balik namanya ada cerita yang lebih sunyi: *seorang ibu yang mencoba menahan anaknya* untuk pergi, seorang *ayah lulusan SD yang ingin anaknya selesai kuliah* dan mengangkat harkat keluarga, juga seorang *anak yang membalasnya* dengan kalimat paling jujur yang pernah diucapkan seorang mahasiswa: *berjuang untuk rakyat, karena rakyat yang membiayainya.*
Yun Hap membayar hutangnya kepada rakyat dengan satu-satunya yang ia miliki, yaitu hidupnya. Tetapi *ada keluarga yang tak pernah meminta apa-apa dari negara harus membayar harga paling mahal atas keberanian anaknya.*
Singa baik itu sudah pergi. Tapi hutangnya sudah lunas.
“*_SAYA SEKOLAH DI UI, RAKYAT YANG MEMBIAYAI, YANG MENSUBSIDI. MAKA SAYA HARUS BERJUANG UNTUK RAKYAT._*”
YAP YUN HAP (1977-1999)







