<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Poros Islam - Porosmedia.com</title>
	<atom:link href="https://porosmedia.com/tag/poros-islam/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://porosmedia.com/tag/poros-islam/</link>
	<description>Sumber Informasi Independen, Aktual dan Terpercaya</description>
	<lastBuildDate>Mon, 22 Dec 2025 10:52:53 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.0</generator>

<image>
	<url>https://porosmedia.com/wp-content/uploads/2021/12/cropped-favicon-porosmedia.com_-1-32x32.png</url>
	<title>Poros Islam - Porosmedia.com</title>
	<link>https://porosmedia.com/tag/poros-islam/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Simfoni Kasih dalam Riuh Perang Ajnadayn</title>
		<link>https://porosmedia.com/simfoni-kasih-dalam-riuh-perang-ajnadayn/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Mang Asuy]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 22 Dec 2025 10:51:49 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Kisah Inspiratif]]></category>
		<category><![CDATA[Poros Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Islami]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://porosmedia.com/?p=38959</guid>

					<description><![CDATA[<p>Porosmedia.com &#124; Tasikmalaya &#8211; PAJNADAYN, PALESTIN – Debu gurun membayangi langit siang, membuat mata pedih dan...</p>
<p>Artikel <a href="https://porosmedia.com/simfoni-kasih-dalam-riuh-perang-ajnadayn/">Simfoni Kasih dalam Riuh Perang Ajnadayn</a> pertama kali tampil pada <a href="https://porosmedia.com">Porosmedia.com</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p class="ds-markdown-paragraph">Porosmedia.com<strong> | </strong>Tasikmalaya &#8211;<strong> PAJNADAYN, PALESTIN –</strong> Debu gurun membayangi langit siang, membuat mata pedih dan nafas sesak. Di tengah hamparan tanah kering yang membara itu, pada tahun 634 Masehi, suatu pertempuran dahsyat berkecamuk. Pasukan Muslimin yang berjumlah jauh lebih kecil, tercengang. Barisan mereka mulai goyah dihantam oleh gelombang demi gelombang legiun Rom Byzantine yang lengkap bersenjata dan berpengalaman. Banyak sahabat telah gugur. Harapan seakan menyusut bersama terbenamnya mentari.</p>
<p class="ds-markdown-paragraph">Tiba-tiba, dari balik kepulan debu dan kekacauan, sebuah siluet muncul bagai bayangan yang hidup. Seorang penunggang kuda, seluruh tubuhnya dibalut jubah dan pakaian hitam legam, dari ujung rambut hingga kaki. Hanya sepasang mata tajam yang menatap dari balik kain penutupnya. Tanpa seruan komando, tanpa gertak teriakan, pahlawan misterius ini melesat bagai anak panah, menyerbu jantung pertahanan musuh seorang diri.</p>
<p class="ds-markdown-paragraph">Aksinya liar, lincah, dan mematikan. Sebuah tombak di tangan kanan, sebilah pedang di tangan kiri. Setiap sabetan dan tusukan adalah penghabisan. Dua, tiga, kepala prajurit Rom berguling di tanah. Dia menyusup ke tengah lautan musuh bagai serigala masuk ke kandang domba, mencipta pusaran kepanikan di tengah barisan yang rapi. Mereka belum pernah melihat gaya bertarung begitu nekad, begitu mahir, dan begitu penuh amuk.</p>
<p class="ds-markdown-paragraph">Dari atas bukit, Panglima Besar Khalid bin Al-Walid—sang &#8220;Pedang Allah yang Terhunus&#8221;—hanya mampu memandang dengan mata terbelalak. Sang legenda hidup itu sendiri terpana. Dalam benaknya, ini pastilah bala bantuan yang datang tak terduga. Kekaguman itu memuncak hingga ia berbisik, &#8220;Andai aku tahu siapa pahlawan ini, niscaya akan kuangkat ia sebagai pemimpin sayap serangan!&#8221;</p>
<p class="ds-markdown-paragraph">Keberanian pahlawan hitam itu bagai percikan api di ladang gersang. Semangat pasukan Muslim yang nyaris padam, membara kembali. Mereka bangkit, menyusul, dan menyerang balik dengan kekuatan baru. Momentum perang pun berbalik. Kekalahan yang hampir pasti, berubah menjadi kemenangan gemilang.</p>
<p class="ds-markdown-paragraph"><strong>Darah, Debu, dan Sebuah Rahasia</strong></p>
<p class="ds-markdown-paragraph">Saat pertempuran usai, pahlawan misterius itu berdiri sendiri. Jubah hitamnya kini basah kuyup, diwarnai bukan oleh keringat, tetapi oleh darah musuh yang masih hangat. Khalid Al-Walid dan para prajurit segera mengepungnya, penasaran dan penuh hormat. Siapa gerangan penyelamat di saat genting itu?</p>
<p class="ds-markdown-paragraph">&#8220;Wahai pahlawan,&#8221; kata Khalid dengan suara tegas penuh wibawa, &#8220;Bukalah penutup wajahmu. Kami ingin mengenalimu.&#8221;</p>
<p class="ds-markdown-paragraph">Sang pahlawan diam, memalingkan muka, segan dan enggan. Namun desakan Khalid dan kerinduan seluruh pasukan untuk memberi penghargaan tak terbendung. Akhirnya, dengan gemetar, pahlawan itu mengangkat tangan dan membuka ikatan penutup wajahnya.</p>
<p class="ds-markdown-paragraph"><em>Gasps</em> keheranan terdengar bersahutan. Di balik pakaian perang yang garang, tersembul wajah yang lembut dan halus. Suara yang keluar kemudian bukanlah bass berat seorang jagoan, melainkan suara lembut seorang wanita.</p>
<p class="ds-markdown-paragraph">&#8220;Khawlah,&#8221; perkenalnya lirih, &#8220;Khawlah binti Al-Azwar.&#8221;</p>
<p class="ds-markdown-paragraph">Dialah saudari kandung dari panglima Derar bin Al-Azwar, seorang prajurit tangguh yang ditangkap musuh dalam pertempuran sebelumnya. Air mata mulai menggenang di matanya saat ia menjelaskan, &#8220;Hatiku tak tahan hanya duduk di kemah, wahai Panglima, sementara kakakku menjadi tawanan. Aku memilih untuk bertarung. Lebih baik aku mati syahid daripada hidup dalam kecemasan tanpa berusaha menyelamatkannya.&#8221;</p>
<p class="ds-markdown-paragraph">Khalid Al-Walid terdiam. Di hadapannya bukan lagi sekadar prajurit misterius, tetapi manifestasi dari cinta saudara yang membara, yang sanggup mengubah seorang wanita lembut menjadi singa padang pasir yang paling ditakuti. Bukannya marah, Sang Panglima justru memberikan izin dan kepercayaan. Khawlah bahkan diberi tempat dalam pasukan khusus penyelamatan yang akhirnya berhasil membebaskan Derar dari cengkeraman Bizantium.</p>
<p class="ds-markdown-paragraph"><strong>Warisan Khawlah, Antara Sejarah dan Inspirasi</strong></p>
<p class="ds-markdown-paragraph">Kisah heroik Khawlah binti Al-Azwar ini masyhur diriwayatkan dalam kitab-kitab sejarah klasik seperti <strong>&#8220;Futuh al-Sham&#8221; (Penaklukan Syam)</strong>, karya Al-Waqidi dan Al-Azdi. Walaupun terdapat diskusi akademis di kalangan sejarawan modern mengenai akurasi detail naratif dan kekuatan sanad-nya—sebagaimana umumnya kajian sejarah awal Islam—kisah ini telah mengkristal menjadi bagian tak terpisahkan dari epik kepahlawanan (Sirah) Islam.</p>
<p class="ds-markdown-paragraph">Ia bukan sekadar catatan perang, melainkan sumber <strong>&#8216;Ibrah&#8217;</strong> (pelajaran dan inspirasi) yang abadi tentang semangat, keberanian, dan kapasitas perempuan dalam peradaban Islam. Dalam berbagai referensi daring seperti <strong>IslamicFinder</strong>, <strong>MuslimahActivity</strong>, dan <strong>The Muslim Vibe</strong>, nama Khawlah selalu disebut dalam daftar perempuan paling berpengaruh dan pemberani di era awal Islam.</p>
<p class="ds-markdown-paragraph">Kisahnya adalah sanggahan telak terhadap stereotip kuno yang menggambarkan perempuan Muslim sebagai makhluk pasif dan tertindas. Khawlah membuktikan bahwa dalam tradisi Islam, perempuan bukan sekadar &#8220;hiasan di dapur&#8221;. Mereka adalah <strong>srikandi</strong> yang, ketika keadaan memanggil, tangan yang biasa menghayun buaian mampu dengan sama tangguhnya mengayun pedang membela kehormatan, keluarga, dan keyakinan.</p>
<p class="ds-markdown-paragraph">Dia adalah pengingat bahwa terkadang, pahlawan terbesar tidak datang dengan nama dan gender yang diharapkan. Kadang, mereka datang dari tempat yang tak terduga: dari balik kemah, dari dorongan hati seorang saudari, dan dari tekad yang lebih keras daripada baja—diselimuti debu dan jubah hitam, mengubah jalannya sejarah di padang pasir Ajnadayn.</p>
<p>Artikel <a href="https://porosmedia.com/simfoni-kasih-dalam-riuh-perang-ajnadayn/">Simfoni Kasih dalam Riuh Perang Ajnadayn</a> pertama kali tampil pada <a href="https://porosmedia.com">Porosmedia.com</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Tiga Hati, dan Kantong Air di Medan Perang Yarmuk</title>
		<link>https://porosmedia.com/tiga-hati-dan-kantong-air-di-medan-perang-yarmuk/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Mang Asuy]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 16 Dec 2025 04:08:10 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Poros Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Artikel Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Islami]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://porosmedia.com/?p=38639</guid>

					<description><![CDATA[<p>Porosmedia.com &#124; Tasikmalaya &#124;Debu Yarmuk pagi itu tidak lagi sekadar debu, ia telah menjadi kabut...</p>
<p>Artikel <a href="https://porosmedia.com/tiga-hati-dan-kantong-air-di-medan-perang-yarmuk/">Tiga Hati, dan Kantong Air di Medan Perang Yarmuk</a> pertama kali tampil pada <a href="https://porosmedia.com">Porosmedia.com</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://porosmedia.com/">Porosmedia.com</a> | Tasikmalaya |Debu Yarmuk pagi itu tidak lagi sekadar debu, ia telah menjadi kabut kemuliaan yang menyesakkan dada, campuran bau tanah gersang, besi berkarat, dan darah yang masih hangat. Langit Siria yang biasanya membentang biru, kini terbelah oleh teriakan takbir yang menggelegar dan rintihan sakratul maut yang memilukan. Di tengah lautan 70.000 pasukan Muslim yang bertahan mati-matian dari gempuran 240.000 tentara Romawi itu, tersebarlah potongan-potongan jiwa yang sedang diuji hakikat keimanannya.</p>
<p>Di antara onggokan tubuh yang tak lagi bisa bergerak, berjalankah seorang lelaki, Abu Jahm bin Hudzaifah al-‘Adawi, dengan langkah terburu dan hati yang lebih kacau dari medan tempur sekalipun. Di tangannya, sebuah kantong kulit berisi air bergoyang-goyang. Bukan untuknya. Telinganya baru saja mendengar kabar yang menyayat, sepupunya sendiri, Hisyam bin Abil ‘Ash, tergeletak tersiksa kehausan di suatu sudut. Air itu adalah dunia. Ia adalah nyawa. Ia adalah batas tipis antara hidup yang tersisa dan kematian yang menjemput.</p>
<p>Hisyam dan Isyarat Tangan yang Mengubah Segalanya<br />
Setelah mengais-kais pandangannya di antara wajah-wajah yang tak dikenali, Abu Jahm akhirnya menemukannya. Hisyam terbaring, tubuhnya bagaikan kain yang dirobek-robek pedang Romawi. Napasnya tersengal, namun matanya masih memancarkan cahaya. Saat kantong air didekatkan, bibirnya yang pecah-pecah bergetar.</p>
<p>“Wahai Hisyam… maukah engkau minum?”<br />
Sebuah isyarat lemah—hanya goyangan jari yang hampir tak terlihat—menjawab “ya”. Dahaganya membara. Tetapi, sebelum tetes pertama menyentuh lidahnya, dari kejauhan, melengkinglah sebuah rintihan yang lebih parau, lebih dalam, seolah datang dari lubuk jiwa yang sama sekali telah kering.</p>
<p>“Air… air…!”</p>
<p>Suara itu milik Ikrimah bin Abu Jahl. Sang “Singa Muda” Mekkah yang dahulu begitu keras kepala menentang Islam, hingga ayahnya, Abu Jahl, mati dalam Perang Badar sebagai simbol kebencian. Kini, Ikrimah justru terbaring di tanah yang sama, berjuang membela bendera yang pernah ia injak-injak. Allah telah membolak-balikkan hatinya. Dan kini, ia sekarat.</p>
<p>Mendengar itu, cahaya di mata Hisyam seakan berpendar lebih terang. Dengan sisa seluruh tenaga, ia menoleh. Katanya, pelan namun tegas, memotong gemuruh peperangan,<br />
“Pergilah… berikan air itu kepadanya… Ikrimah lebih membutuhkan.”</p>
<p>Kalimat itu bukan sekadar pesan. Itu adalah sebuah dekrit dari ruang mahkamah tertinggi jiwa. Hisyam memilih untuk mendengar rintihan saudara seimannya daripada teriakan nafsunya sendiri yang sedang sekarat.</p>
<p>Ikrimah dan Pelajaran Kedua tentang Keikhlasan<br />
Abu Jahm terpana, tetapi ia patuh. Ia berlari, debu mengepul di kakinya, menuju sumber rintihan itu. Di sana terbaring Ikrimah, sang mantan bangsawan Quraisy yang sombong, kini hina di atas pasir, bersimbah luka. Wajahnya yang dulu angkuh, kini lembut diterpa cahaya keimanan.</p>
<p>“Minumlah, wahai Ikrimah!”<br />
Tangan Ikrimah yang penuh darah sudah terulur. Kantong air itu hampir saja berpindah. Namun, telinganya yang peka menangkap sesuatu, sebuah rintihan lain, lebih lemah, hampir seperti bisikan angin. Dari sebelah kanannya, Al-Harith bin Hisyam—saudara sepupu, kerabat dekat—juga terbaring dalam nestapa yang sama.</p>
<p>Seketika, di wajah Ikrimah muncul pergulatan. Ia memandang kantong air, lalu memandang arah rintihan itu. Lalu, dengan gerakan yang lebih merupakan dorongan hati daripada kekuatan fisik, ia mendorong lembut tangan Abu Jahm yang membawa air.</p>
<p>“Tidak…” desisnya, “Pergilah kepada Al-Harith… dia lebih membutuhkan daripada aku.”</p>
<p>Di titik antara hidup dan mati, Ikrimah memilih untuk menyempurnakan taubatnya. Bukan dengan pedang yang menghunus, tetapi dengan kantong air yang ia tolak. Ia membayar rasa bersalah masa lalunya dengan keikhlasan di detik-detik terakhirnya.</p>
<p>Babak Terakhir, Pelajaran yang Diukir Kematian<br />
Abu Jahm, dengan jantung yang berdebar kencang, berbalik arah. Ia menuju Al-Harith, berharap bisa menyelamatkan setidaknya satu nyawa dari tiga pahlawan ini. Namun, saat ia sampai…</p>
<p>Diam.<br />
Al-Harith telah pergi. Wajahnya tenang, seolah ia meninggalkan dunia ini bukan karena kehausan, tetapi karena kepenuhan akan suatu pengorbanan yang lebih besar.</p>
<p>Dengan hati yang mulai tenggelam, Abu Jahm bergegas kembali ke Ikrimah.<br />
Diam pula.<br />
Ikrimah telah syahid. Senyum tipis mungkin tersungging di bibirnya, puas karena telah mendahulukan saudaranya.</p>
<p>Nafas terakhir Abu Jahm tertahan. Ia berlari, sekuat tenaga, kembali ke tempat Hisyam terbaring.<br />
Dan di sana, lengkap sudah tragedi agung itu.<br />
Hisyam pun telah menyusul. Tubuhnya yang dingin telah bersaksi tentang sebuah kemenangan yang tidak tercatat dalam peta strategi perang mana pun.</p>
<p>Tiga kesatria itu—Ikrimah bin Abu Jahl, Hisyam bin Abil ‘Ash, dan Al-Harith bin Hisyam—wafat sebagai syuhada. Tanpa setetes air pun menyentuh kerongkongan mereka. Mereka mati kehausan secara fisik, tetapi jiwa mereka tenggelam dalam samudera kecukupan iman.</p>
<p>Mereka bertiga adalah monumen hidup tentang al-itsar. Sebuah konsep yang sering diucapkan, namun jarang teruji hingga batas “nyawa sendiri atau nyawa saudaramu”. Mereka adalah bukti bahwa Allah benar-benar Maha Membolak-balikkan Hati. Dari tiga pemuda Quraisy yang akar nasabnya terjalin dalam permusuhan terhadap Islam, mereka bertransformasi menjadi simbol cinta tertinggi karena Allah.</p>
<p><center></center></p>
<blockquote class="tiktok-embed" style="max-width: 605px; min-width: 325px;" cite="https://www.tiktok.com/@ngulik.sendiri/video/7579761629840051476" data-video-id="7579761629840051476">
<section><a title="@ngulik.sendiri" href="https://www.tiktok.com/@ngulik.sendiri?refer=embed" target="_blank" rel="noopener">@ngulik.sendiri</a> Bangunkan kesadaran <a title="fyp" href="https://www.tiktok.com/tag/fyp?refer=embed" target="_blank" rel="noopener">#fyp</a> <a title="mangasuy" href="https://www.tiktok.com/tag/mangasuy?refer=embed" target="_blank" rel="noopener">#mangasuy</a> <a title="dailyvlog" href="https://www.tiktok.com/tag/dailyvlog?refer=embed" target="_blank" rel="noopener">#dailyvlog</a> <a title="motivation" href="https://www.tiktok.com/tag/motivation?refer=embed" target="_blank" rel="noopener">#motivation</a> <a title="islamic" href="https://www.tiktok.com/tag/islamic?refer=embed" target="_blank" rel="noopener">#islamic</a> <a title="♬ suara asli - Ngulik Sendiri" href="https://www.tiktok.com/music/suara-asli-Ngulik-Sendiri-7579761677693766407?refer=embed" target="_blank" rel="noopener">♬ suara asli &#8211; Ngulik Sendiri</a></section>
</blockquote>
<p><script async src="https://www.tiktok.com/embed.js"></script><br />
Kisah kantong air di Yarmuk itu bukan sekadar fragmen sejarah. Ia adalah cermin. Di dunia yang seringkali mengajarkan “selamatkan dirimu dulu”, ketiganya berbisik lantang dari balik lapisan waktu, “Kebahagiaan sejati justru terletak pada kemampuanmu mendahulukan kebahagiaan orang lain, bahkan ketika kamu sendiri sedang sengsara.”</p>
<p>Nama mereka dikenang bukan karena jumlah musuh yang mereka tumbangkan, tetapi karena satu kantong air yang mereka tidak minum. Dalam penolakan itulah, kemenangan abadi mereka terukir. Dan di setiap tetes air yang kita minum dengan mudah hari ini, terpantul bayangan tiga kesatria Yarmuk yang memilih haus, demi kita memahami arti kepenuhan yang sesungguhnya.</p>
<p>Artikel <a href="https://porosmedia.com/tiga-hati-dan-kantong-air-di-medan-perang-yarmuk/">Tiga Hati, dan Kantong Air di Medan Perang Yarmuk</a> pertama kali tampil pada <a href="https://porosmedia.com">Porosmedia.com</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Seni Sufi Menghadapi Serangan Pribadi di Era Digital</title>
		<link>https://porosmedia.com/seni-sufi-menghadapi-serangan-pribadi-di-era-digital/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Mang Asuy]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 16 Dec 2025 03:00:16 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Poros Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Artikel Islami]]></category>
		<category><![CDATA[Islami]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://porosmedia.com/?p=38632</guid>

					<description><![CDATA[<p>Porosmedia.com &#124; Tasikmalaya &#124; Dalam gelanggang percakapan, baik di dunia nyata maupun di ruang digital...</p>
<p>Artikel <a href="https://porosmedia.com/seni-sufi-menghadapi-serangan-pribadi-di-era-digital/">Seni Sufi Menghadapi Serangan Pribadi di Era Digital</a> pertama kali tampil pada <a href="https://porosmedia.com">Porosmedia.com</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://porosmedia.com/">Porosmedia.com</a> | Tasikmalaya | Dalam gelanggang percakapan, baik di dunia nyata maupun di ruang digital yang penu kecepatan, serangan pribadi sering kali lebih menusuk dan meninggalkan luka yang lebih dalam daripada bantahan logis yang dingin. Ia seperti panah beracun yang ditembakkan bukan ke gagasan, melainkan langsung ke jantung identitas kita. Namun, jauh di dalam khazanah hikmah para sufi, tersembunyi sebuah pencerahan, seringkali, teriakan paling keras justru menyembunyikan kelemahan yang paling dalam. Orang yang paling gencar menyerang pribadi kerap kali sedang berperang dengan bayangannya sendiri.</p>
<p>Dalam ilmu logika dan komunikasi, fallacy ad hominem—menyerang pelaku, bukan argumennya—memang dikenali sebagai senjata pamungkas ketika nalar telah kehabisan amunisi. Artinya, jika kita mampu berdiri tegak menghadapi hujan badai celaan dengan ketenangan, sejatinya kita telah berada di puncak yang lebih tinggi. Posisi kita tak tergoyahkan.</p>
<p>Rasulullah ﷺ, sang teladan agung, telah memberikan contoh abadi. Beliau dihina sebagai penyair, tukang sihir, bahkan orang gila. Tuduhan keji itu tidak dibalas dengan kemarahan yang meledak, tetapi dengan kesabaran yang membatu, hikmah yang menyejukkan, dan doa yang tulus untuk hidayah pelakunya. Dalam dunia kita sekarang, di mana komentar kasar dan body shaming di media sosial bisa viral dalam hitungan menit, prinsip ini relevan lebih dari sekadar nasihat; ia adalah survival kit jiwa.</p>
<p>Lalu, bagaimanakah rumus kuno para sufi ini diterjemahkan dalam keseharian kita yang serba cepat dan penuh tekanan?</p>
<p>1. Membaca Nada di Balik Kata, Kritik vs. Racun<br />
Para sufi mengajarkan, “Ambillah mutiara hikmah, bahkan dari mulut yang pahit.” Kemampuan membedakan adalah kunci. Kritik yang konstruktif, sekalipun keras, adalah cermin yang kadang perlu kita hadapi. Sedangkan serangan pribadi murni adalah racun yang ditujukan untuk melukai. Di era cancel culture dan cyberbullying, kemampuan memilah ini menjadi superpower. Sebuah studi dari Pew Research Center (2024) menunjukkan bahwa 55% pengguna media sosial merasa lebih sulit membedakan kritik online yang valid dari sekadar ujaran kebencian, yang kerap dipicu oleh algoritma yang memprioritaskan konten emosional.</p>
<p>2. Tenang, Benteng yang Tak Terkepung<br />
Penyerang mengharapkan reaksi. Mereka ingin kita terpancing, masuk ke dalam arena emosi mereka. Nasihat para wali berbunyi, “Jangan tergesa marah, karena marah adalah kunci segala pintu keburukan.” Kettenangan bukan kelemahan, tetapi puncak dari mujahadah an-nafs—peperangan dan penguasaan diri. Penelitian neurosains modern membenarkan hal ini; ketika kita bereaksi emosional terhadap provokasi, bagian amygdala otak kita (pusat rasa takut dan agresi) mengambil alih, mematikan logika di korteks prefrontal. Dengan memilih tenang, kita secara harfiah merebut kembali kendali atas otak kita sendiri.</p>
<p>3. Mengembalikan Poros Percakapan pada Kebenaran<br />
Serangan pribadi adalah taktik pengalihan. Ia menggeser fokus dari “apa” yang dibicarakan menjadi “siapa” yang berbicara. Rumus sufi mengajak kita untuk dengan lembut namun pasti mengembalikan percakapan ke substansi. Seperti Nabi yang menjawab hinaan dengan mengajak pada kebenaran. Dalam rapat kerja atau diskusi grup WhatsApp, cobalah berkata, “Mari kita fokus kembali pada solusi masalahnya, bukan pada pribadi kita.”</p>
<p>4. Senjata Halus, Senyum dan Kelapangan Jiwa<br />
Terkadang, kelembutan adalah palu godam yang tak terlihat. Seperti kisah ulama yang membalas celaan dengan canda yang menyejukkan, hingga si penyerang merasa malu dengan sendirinya. Humor yang positif dan tidak sarkastik adalah penanda kelapangan jiwa. Ia melucuti tensi tanpa perlu perang. Psikolog positif seperti Barbara Fredrickson menunjukkan bagaimana emosi positif seperti rasa humor dapat “mengurungkan” efek fisiologis dari stres dan konflik.</p>
<p>5. Menegaskan Batas dengan Kemuliaan Diri (Izzah)<br />
Sufi bukanlah paham pasif. Diam bukan berarti membiarkan martabat diinjak-injak. Ada saatnya kita perlu berkata tegas, “Saya menghargai perbedaan pendapat, tapi mari kita bahas idenya, bukan fisik atau latar belakang saya.” Kalimat seperti ini menegaskan batas dengan tetap menjaga adab. Ini adalah bentuk izzah (kemuliaan diri) seorang mukmin, yang menjaga hak orang lain sekaligus menghormati dirinya sendiri.</p>
<p>6. Diam yang Lebih Bermakna dari Ribuan Kata<br />
Imam Syafi‘i pernah berujar bijak, “Aku pernah berdebat dengan seribu orang dan menang seribu kali. Tapi ketika berdebat dengan orang bodoh, aku kalah.” Mengapa? Karena mereka akan menyeretku ke level mereka, lalu mengalahkanku dengan pengalaman mereka yang luas dalam kebodohan.” Diam adalah senjata stratosferik. Ia menjaga martabat kita sekaligus menghentikan siklus toksik. Di dunia digital, “silence is not consent; it’s a boundary.” Tidak membalas hate comment justru sering memutus siklus perundungan.</p>
<p>7. Alkimia Hati, Mengubah Racun menjadi Obat<br />
Inilah puncak seninya, mengubah serangan menjadi pijakan. Jika disindir, “Kamu kan baru belajar,” jawab dengan percaya diri, “Betul, dan saya bersyukur masih semangat belajar. Semoga kita sama-sama terus bertumbuh.” Jika dihina karena masa lalu, tegaskan, “Ya, itu bagian dari perjalanan hidup saya yang membuat saya seperti sekarang.” Teknik reframing ini adalah inti dari ketangguhan psikologis (resilience) yang banyak dibahas dalam psikologi kontemporer.</p>
<blockquote class="tiktok-embed" style="max-width: 605px; min-width: 325px;" cite="https://www.tiktok.com/@ngulik.sendiri/video/7584064286985571605" data-video-id="7584064286985571605">
<section><a title="@ngulik.sendiri" href="https://www.tiktok.com/@ngulik.sendiri?refer=embed" target="_blank" rel="noopener">@ngulik.sendiri</a> Cry on My Shoulder <a title="dailyvlog" href="https://www.tiktok.com/tag/dailyvlog?refer=embed" target="_blank" rel="noopener">#dailyvlog</a> <a title="pestarasaakhirtahun" href="https://www.tiktok.com/tag/pestarasaakhirtahun?refer=embed" target="_blank" rel="noopener">#pestarasaakhirtahun</a> <a title="mangasuy" href="https://www.tiktok.com/tag/mangasuy?refer=embed" target="_blank" rel="noopener">#mangasuy</a> <a title="fyp" href="https://www.tiktok.com/tag/fyp?refer=embed" target="_blank" rel="noopener">#fyp</a> <a title="fypage" href="https://www.tiktok.com/tag/fypage?refer=embed" target="_blank" rel="noopener">#fypage</a> <a title="♬ suara asli - Ngulik Sendiri" href="https://www.tiktok.com/music/suara-asli-Ngulik-Sendiri-7584064359656147730?refer=embed" target="_blank" rel="noopener">♬ suara asli &#8211; Ngulik Sendiri</a></section>
</blockquote>
<p><script async src="https://www.tiktok.com/embed.js"></script>Epilog, Naiknya Derajat di Tengah Reruntuhan Kata-Kata</p>
<p>Rumus sufi pada hakikatnya adalah seni menjaga kedaulatan batin. Ia menyadari bahwa serangan pribadi tidak akan pernah benar-benar menjatuhkan kita, kecuali kita sendiri yang menyerahkan kendali jiwa kepada nafsu amarah. Dengan kesabaran, kelapangan dada, dan ketajaman hikmah, kita justru mengalami transformasi ke dalam—naik derajat dalam ketenangan dan kematangan.</p>
<p>Sementara itu, tanpa perlu kita jatuhkan, si penyerang sering kali sudah terjatuh oleh beban kata-katanya sendiri. Di tengah gemuruh dunia yang kerap memuja reaksi instan, hikmah para sufi ini berdiri sebagai mercusuar, kemenangan sejati bukanlah tentang membuat lawan diam, tetapi tentang tetap bersuara lembut—atau memilih diam yang bermartabat—saat seluruh dunia menjerit.</p>
<p>“Diamku dari orang bodoh adalah sebuah jawaban. Cukup sudah, berdiam dari sesuatu yang memang sudah jelas kebodohannya itu lebih baik.” — Ali bin Abi Thalib r.a.</p>
<p>Artikel <a href="https://porosmedia.com/seni-sufi-menghadapi-serangan-pribadi-di-era-digital/">Seni Sufi Menghadapi Serangan Pribadi di Era Digital</a> pertama kali tampil pada <a href="https://porosmedia.com">Porosmedia.com</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Abu Hurairah, Sang Bapak Kucing, Lembutnya Hati dan Abadinya Ilmu</title>
		<link>https://porosmedia.com/abu-hurairah-sang-bapak-kucing-lembutnya-hati-dan-abadinya-ilmu/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Mang Asuy]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 14 Dec 2025 04:07:08 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Poros Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://porosmedia.com/?p=38563</guid>

					<description><![CDATA[<p>Porosmedia.com &#124; Tasikmalaya Dia adalah perbendaharaan hadis Nabi. Namanya terukir dalam ribuan riwayat, menjadi jembatan...</p>
<p>Artikel <a href="https://porosmedia.com/abu-hurairah-sang-bapak-kucing-lembutnya-hati-dan-abadinya-ilmu/">Abu Hurairah, Sang Bapak Kucing, Lembutnya Hati dan Abadinya Ilmu</a> pertama kali tampil pada <a href="https://porosmedia.com">Porosmedia.com</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://porosmedia.com/">Porosmedia.com</a> | Tasikmalaya Dia adalah perbendaharaan hadis Nabi. Namanya terukir dalam ribuan riwayat, menjadi jembatan utama antara Rasulullah ﷺ dan umat setelahnya. Namun, di balik kedalaman ilmunya yang samudera, terselip sebuah panggilan yang justru mengungkapkan jati dirinya yang paling hakiki, Abu Hurairah, sang Bapak Kucing.</p>
<p>Sebelum menjadi legenda periwayatan Islam, dia adalah Abdurrahman bin Shakhr, seorang pemuda dari suku Daus, Yaman, yang hijrah dengan penuh kerinduan untuk memeluk Islam dan menemui Sang Nabi. Dunia mengenalnya bukan dengan nama aslinya, melainkan dengan julukan yang lahir dari sebuah adegan sederhana nan menyentuh, seorang lelaki dewasa dengan anak kucing kecil yang selalu menemaninya.</p>
<p>Sang Penyayang dari Negeri Yaman</p>
<p>Sejak muda, jiwa Abdurrahman telah dihiasi dengan kelembutan yang luar biasa terhadap makhluk yang lemah. Dalam kesendirian maupun keramaian, ia sering terlihat dengan seekor hurairah—anak kucing kecil dalam logat Arab—yang ia rawat dengan penuh kasih. Kucing itu tidur di sudut selendangnya, ia beri makan dari jatahnya yang sederhana, dan diajaknya berjalan-jalan dengan hati-hati. Bukan sekali atau dua kali, melainkan menjadi pemandangan yang khas darinya.</p>
<p>Mata orang-orang pun tertuju. “Ya Aba Hurairah!” seru mereka, setengah heran, setengah kagum. “Wahai, Bapak si Kucing Kecil!” Panggilan itu bergema, dari mulut ke mulut, hingga akhirnya melekat lebih kuat daripada nama pemberian orang tuanya. Julukan yang di dunia lain bisa jadi dianggap remeh, justru menjadi mahkota keunikan baginya.</p>
<p>Rasulullah, Senyum, dan Sebuah Julukan yang Diberkati</p>
<p>Yang menakjubkan, Rasulullah ﷺ—yang selalu memilih kata dan panggilan terbaik—ternyata juga memanggilnya demikian. “Ya Aba Hurairah,” panggil Sang Nabi dengan lembut. Dalam panggilan itu, tersirat pengakuan dan penerimaan. Nabi tidak pernah menegur kegemarannya itu, karena Islam sendiri memuliakan kucing. Kucing diistimewakan dalam Islam, tetapi kotoran dan air kencingnya tetap najis, sementara bulu dan air liurnya dimaafkan dalam jumlah sedikit karena sulit dihindari.</p>
<p>Saat Nabi melihat Abu Hurairah datang dengan ‘anak’ kesayangannya, yang terpancar adalah senyum, bukan celaan. Di sini, julukan itu bertransformasi, dari sekadar panggilan masyarakat, menjadi kunyah yang disahkan dan diberkahi oleh Rasulullah sendiri. Ia bukan lagi ejekan, melainkan gelar kehormatan yang menandai seorang penyayang.</p>
<p>Hati yang Lembut, Gudang Ilmu yang Kuat</p>
<p>Kisahnya dengan kucing bukan sekadar cerita lucu pengisi waktu. Itu adalah jendela menuju karakternya. Kelembutan yang ditunjukkannya kepada makhluk kecil adalah cerminan dari kelembutan hatinya yang siap menerima cahaya Ilahi. Hati yang penuh kasih adalah tanah subur tempat benih-benih hikmah dan ilmu bisa tumbuh dengan kokoh.</p>
<p>Allah SWT kemudian menganugerahinya karunia yang luar biasa, hafalan yang kuat dan tajam. Karunia ini lahir dari doa Rasulullah ﷺ, yang melihat kesungguhan dan kemiskinannya. Abu Hurairah pernah kelaparan hingga pingsan di serambi masjid, disangka kesurupan. Setelah Nabi mengetahui, beliau mendoakannya agar ilmu yang didengar tidak terlupa. Sejak saat itu, memori Abu Hurairah menjadi seperti bejana yang tak pernah luber, menyimpan setiap kata, setiap senyum, dan setiap teladan Nabi.</p>
<p>Dia meriwayatkan lebih dari 5.000 hadis, menjadi sahabat dengan kontribusi terbesar dalam periwayatan, meski masa bersamanya dengan Nabi relatif singkat (hanya sekitar 4 tahun). Semua itu berawal dari sebuah hati yang tulus—hati yang sama yang tergerak oleh kucing kecil yang terlantar.</p>
<p>Warisan yang Bergema, Nama, Kasih Sayang, dan Ilmu</p>
<p>Abu Hurairah wafat di Madinah, meninggalkan warisan abadi, lautan hadis yang hingga hari ini menjadi pedoman hidup miliaran muslim. Namun, warisan lain yang tak kalah penting adalah teladan kasih sayang yang universal.</p>
<p>Dalam panggilan “Bapak Kucing”, kita diingatkan bahwa keagungan ilmu tidak harus kaku dan angker. Ia bisa berjalan beriringan dengan kelembutan dan kepedulian kepada makhluk Tuhan yang paling kecil sekalipun. Namanya mengajarkan bahwa kemuliaan sejati terletak pada hati yang mudah tersentuh, jiwa yang rendah hati, dan kesediaan untuk merawat—baik ilmu maupun makhluk.</p>
<p>Maka, setiap kali kita membaca hadis yang diriwayatkannya, atau mendengar namanya disebut, ingatlah tidak hanya pada sang ahli hadis, tetapi juga pada lelaki dengan anak kucing di lengan bajunya. Lelaki yang namanya, berkat kelembutannya, justru bergema lebih luas dan abadi melewati zaman, Abu Hurairah, sang Bapak Kucing, sang Penjaga Cinta dan Ilmu Nabi.</p>
<p>Artikel <a href="https://porosmedia.com/abu-hurairah-sang-bapak-kucing-lembutnya-hati-dan-abadinya-ilmu/">Abu Hurairah, Sang Bapak Kucing, Lembutnya Hati dan Abadinya Ilmu</a> pertama kali tampil pada <a href="https://porosmedia.com">Porosmedia.com</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Nubuat Rasulullah ﷺ untuk Ammar bin Yasir radhiyallahu ‘anhu</title>
		<link>https://porosmedia.com/nubuat-rasulullah-%ef%b7%ba-untuk-ammar-bin-yasir-radhiyallahu-anhu/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Mang Asuy]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 14 Dec 2025 02:43:14 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Poros Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Artikel Islami]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://porosmedia.com/?p=38560</guid>

					<description><![CDATA[<p>Porosmedia.com &#124; Tasikmalaya &#124; Dalam catatan emas sejarah Islam, terdapat beberapa nubuat Nabi Muhammad ﷺ yang...</p>
<p>Artikel <a href="https://porosmedia.com/nubuat-rasulullah-%ef%b7%ba-untuk-ammar-bin-yasir-radhiyallahu-anhu/">Nubuat Rasulullah ﷺ untuk Ammar bin Yasir radhiyallahu ‘anhu</a> pertama kali tampil pada <a href="https://porosmedia.com">Porosmedia.com</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://porosmedia.com/">Porosmedia.com</a> | Tasikmalaya | Dalam catatan emas sejarah Islam, terdapat beberapa nubuat Nabi Muhammad ﷺ yang begitu spesifik, mengungkap akhir hayat para sahabatnya. Salah satu yang paling menakjubkan dan penuh makna adalah tentang syahidnya Ammar bin Yasir radhiyallahu ‘anhu. Ia bukan sekadar sahabat biasa, melainkan pilar ketabahan yang lahir dari keluarga syuhada pertama Islam, dan kematiannya menjadi penanda abadi antara hak dan batil.</p>
<p>Dari Wajah Berdebu ke Sabda yang Mengguncang</p>
<p>Suatu hari di Madinah, di tengah panasnya pembangunan Masjid Nabawi, seorang lelaki kurus berusia lanjut terlihat membawa beban ganda. Dialah Ammar bin Yasir, dengan semangat membara, mengangkat dua batu sekaligus saat yang lain membawa satu.<br />
Melihat dedikasi luar biasa itu, Rasulullah ﷺ mendekati Ammar. Dengan penuh kasih, beliau mengusap debu dari wajah sahabatnya itu. Kemudian, di hadapan para sahabat, keluar sabda yang meramal sebuah takdir tragis sekaligus agung, &#8220;Celakalah Ammar! Ia akan dibunuh oleh kelompok yang melampaui batas (al-fi’ah al-baghiyah).&#8221;</p>
<p>Kalimat itu menggantung di udara. Para sahabat menyimpannya dalam hati, bertanya-tanya kapan dan di medan apa nubuat itu akan terwujud.</p>
<p>Puluhan Tahun Berlalu, Fitnah Besar dan Medan Penggenapan</p>
<p>Ramalan itu baru menemukan panggung sejarahnya puluhan tahun kemudian, dalam sebuah peristiwa yang membelah umat, Perang Shiffin (37 H). Dunia Islam sedang dilanda badai fitnah pasca syahidnya Khalifah Utsman bin Affan. Di satu sisi berdiri Khalifah Ali bin Abi Thalib, pemimpin sah yang diikuti Ammar. Di sisi lain, berdiri Muawiyah bin Abi Sufyan dengan tuntutan penyelesaian hukum atas pembunuhan Utsman.</p>
<p>Di tengah medan Shiffin yang panas dan tegang, muncul sosok renta nan perkasa, Ammar bin Yasir, yang telah menginjak usia 90 tahun. Kehadirannya bagai petir di siang bolong bagi yang mengingat sabda Nabi. Sebuah realisasi tengah berlangsung, Jika Ammar berada di kubu Ali, maka pihak yang akan membunuhnya adalah kelompok yang &#8220;melampaui batas&#8221;. Bagi banyak sahabat, ini adalah petunjuk Nabi yang jelas tentang di mana barisan kebenaran berada saat itu.</p>
<p>Isyarat Terakhir, &#8220;Hari yang Dijanjikan Kekasihku&#8221;</p>
<p>Di hari-hari terakhirnya, Ammar merasakan firasat kuat. Saat seorang sahabat menawarkan air, ia menolak. &#8220;Bawakan aku susu,&#8221; pintanya. Setelah meminumnya dengan tenang, senyum tenteram merekah di wajahnya. &#8220;Hari ini adalah hari yang dijanjikan oleh Kekasihku (Rasulullah),&#8221; ucapnya. Ia tahu, itu adalah tanda terakhir. Sebuah kepastian dari Sang Nabi bahwa ajal syahidnya telah tiba.</p>
<p>Tak lama kemudian, dengan semangat pemuda, Ammar kembali ke barisan depan. Ia bertempur dengan gagah berani hingga sebuah tombak menembus tubuhnya. Ia pun gugur, persis seperti yang diramalkan oleh manusia terpercaya, Rasulullah ﷺ.</p>
<p>Saat Ramalan Menjadi Kenyataan</p>
<p>Kabar gugurnya Ammar menyebar bagai gelombang kejut. Di barisan Ali, tangisan dan takbir berkumandang untuk seorang syahid agung. Sementara, di barisan lawan, terjadi kegemparan yang luar biasa. Banyak dari mereka yang juga pernah mendengar hadis itu langsung dari Nabi ﷺ. Realitas itu menghantam kesadaran mereka, mereka telah membunuh orang yang disebut Nabi akan dibunuh oleh &#8220;kelompok yang melampaui batas&#8221;. Sejarawan mencatat, sebagian pasukan Muawiyah bahkan mengalami krisis keyakinan dan meninggalkan medan perang setelah peristiwa ini.</p>
<p>Warisan Abadi di Balik Sebuah Nubuat</p>
<p>Kisah syahidnya Ammar bin Yasir bukan sekadar fragmen sejarah, melainkan kompas ilahi yang ditinggalkan Nabi untuk umatnya. Ia mengandung pelajaran multidimensi,</p>
<p>Penanda Kebenaran di Tengah Kabut Fitnah. Nubuat ini adalah bukti nyata kenabian Muhammad ﷺ dan petunjuk praktis bagi umat dalam memilah kebenaran saat kebingungan melanda.</p>
<p>Kesabaran yang Berbuah Kemuliaan. Hidup Ammar adalah rangkaian ujian, disiksa di Mekah, kehilangan keluarga sebagai syuhada pertama, hingga akhirnya gugur di usia senja. Ia adalah simbol ketabahan sejati.</p>
<p>Keberanian yang Lahir dari Keyakinan, Bukan Otot. Di usia 90 tahun, Ammar memilih barisan depan. Keberaniannya adalah buah dari iman yang telah matang puluhan tahun.</p>
<p>Kematian Bukan Akhir, Melainkan Bukti. Gugurnya Ammar justru mengkonfirmasi kebenaran yang ia perjuangkan, membuat lawan-lawannya goyah dan pengikutnya semakin yakin.</p>
<p>Penutup, Simbol yang Tak Pernah Padam</p>
<p>Ammar bin Yasir radhiyallahu ‘anhu telah pergi. Namun, kisahnya bersama nubuat Rasulullah ﷺ tetap hidup, menerangi jalan setiap generasi yang menghadapi kegelapan fitnah. Ia adalah bukti bahwa sejarah Islam ditulis dengan tanda-tanda Ilahi, dan kebenaran, meski kadang dikelilingi kesulitan, selalu memiliki penanda yang jelas bagi yang mau merenung.</p>
<p>Semoga Allah meridhai Ammar bin Yasir, sang pejuang tua dari keluarga syuhada, yang hidup dan matinya menjadi saksi kebenaran risalah Rasulullah ﷺ. Kisahnya adalah cahaya yang takkan pernah redup.</p>
<p>Artikel <a href="https://porosmedia.com/nubuat-rasulullah-%ef%b7%ba-untuk-ammar-bin-yasir-radhiyallahu-anhu/">Nubuat Rasulullah ﷺ untuk Ammar bin Yasir radhiyallahu ‘anhu</a> pertama kali tampil pada <a href="https://porosmedia.com">Porosmedia.com</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Dunia Sibuk Bela Ukraina, Kezaliman di Palestina Semakin Merajalela</title>
		<link>https://porosmedia.com/dunia-sibuk-bela-ukraina-kezaliman-di-palestina-semakin-merajalela/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Yuni.kaisa]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 15 Apr 2022 04:54:53 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Poros Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Israel]]></category>
		<category><![CDATA[Kezaliman]]></category>
		<category><![CDATA[Palestina]]></category>
		<category><![CDATA[Rusia]]></category>
		<category><![CDATA[Ukraina]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://porosmedia.com/?p=12033</guid>

					<description><![CDATA[<p>Porosmedia.com &#8211; Dunia memiliki perhatian besar pada serangan bertubi-tubi yang digencarkan Rusia terhadap Ukraina. Jelas...</p>
<p>Artikel <a href="https://porosmedia.com/dunia-sibuk-bela-ukraina-kezaliman-di-palestina-semakin-merajalela/">Dunia Sibuk Bela Ukraina, Kezaliman di Palestina Semakin Merajalela</a> pertama kali tampil pada <a href="https://porosmedia.com">Porosmedia.com</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong><a href="https://porosmedia.com">Porosmedia.com</a> &#8211; </strong>Dunia memiliki perhatian besar pada serangan bertubi-tubi yang digencarkan Rusia terhadap Ukraina. Jelas ini adalah masalah kemanusiaan yang harus segera diselesaikan dan semua mata merasakan duka yang dalam.</p>
<p>Namun dibelahan bumi yang lain bernama Palestina, saudara kita juga mati-matian berjuang sendiri mengatasi serangan militer yang dilakukan Israel yang telah terjadi selama kurang lebih satu abad.</p>
<p>Pada Senin (04/04/2022) lalu, Perdana Menteri Palestina Mohammed Ishtay berharap dunia bisa meminta Israel untuk menghentikan serangan militer mereka terhadap warga sipil Palestina.</p>
<p>Pesan ini ia sampaikan selama rapat kabinet Otoritas Palestina yang digelar di Kota Ramallah, Tepi Barat sebelum akhirnya disampaikan secara resmi.</p>
<p>&#8220;Eskalasi Israel terhadap warga Palestina, yang meliputi pembunuhan, penyiksaan, penangkapan serta membolehkan pemukim melakukan kejahatan, menimbulkan ancaman yang luar biasa terhadap keamanan dan stabilitas di kawasan,&#8221; kata Ishtaye.</p>
<p>Negara di dunia diharapkan bisa mendorong Israel untuk segera mengakhiri pelanggaran ekstremis Israel terhadap kesucian Masjid Al-Aqsa. Terlebih, mereka juga dituduh menyerang masjid selama Ramadhan.</p>
<p>&#8220;Israel mengizinkan para pemukim membawa senjata dan membunuh warga Palestina hanya karena mereka tersangka,&#8221; katanya di sidang kabinet.</p>
<p>Ia juga menuntut tanggung jawab penuh Israel atas konsekuensi serius yang disebabkan oleh hal ini.  Sabtu lalu, tiga anggota Jihad Islam Palestina  dilaporkan meregang nyawa saat berada di Kota Jenin.</p>
<p>Militer Israel mengklaim, tiga orang itu memiliki senjata dan berencana menyerang Israel di tepi barat. Ketegangan antara Israel dan Palestina juga terus memanas selama beberapa hari belakangan.(Warta Ekonomi,07 April 2022)</p>
<p><strong>Ukraina di Bela, Palestina Berduka</strong></p>
<p>Di Bagian barat Ukraina, ratusan warga sipil dilaporkan meninggal dunia usai dihantam serangan militer milik Rusia.</p>
<p>Dalam insiden kejahatan kemanusiaan tersebut, Walikota Bucha, Anatoliy Fedoruk mengatakan ada sekitar 280 orang yang sudah dimakamkan oleh pihak berwenang di lokasi kejadian.</p>
<p>Dalam proses evakuasi korban, para tentara Ukraina menggunakan kabel untuk menarik mayat warga sipil yang tergeletak di jalanan.</p>
<p>Peristiwa naas yang terjadi di Kota Bucha, Ukraina ini pun mengundang banyak perhatian dunia. Salah satunya Perdana Menteri Inggris, Boris Johnson.</p>
<p>Serangan Rusia di Kota Bucha bagi Jhonson, merupakan perbuatan tercela, dan Ia berjanji akan melakukan segala upaya untuk membuat tentara Putin kelaparan.</p>
<p>Bagi Johnson, Rusia tidak lagi bisa mengelak bahwa perbuatannya di Bucha adalah kejahatan perang yang sudah direncanakan.</p>
<p>&#8220;Lebih banyak bukti bahwa Presiden Rusia Vladimir Putin dan tentaranya melakukan kejahatan perang di Ukraina,&#8221; ujarnya mengutip Pikiran-Rakyat.com dari Al-Jazeera, Senin (04/04/2022).</p>
<p>Selain itu kecaman serangan kejahatan perang di Bucha, Ukraina pun hadir dari petinggi NATO,  dan dari India.</p>
<p>Tampaknya dunia kembali menerapkan standar ganda, dukungan dan perhatian ramai-ramai datang untuk Ukraina, sementara Palestina yang seharusnya memiliki dukungan dan perhatian lebih banyak terutama dari para penguasa negeri-negeri muslim tampaknya hanya mimpi.</p>
<p>Perhatian dan dukungan yang diharapkan tak lebih dari sebatas kecaman, tak pernah ada yang berani bersikap tegas dengan memberi bantuan militer, dukungan yang mereka berikan sedikit pun tidak bisa menghentikan kajahatan Israel terhadap Palestina.</p>
<p><strong>Menunggu Keadilan Untuk Palestina</strong></p>
<p>Sungguh miris, kekejaman Israel terhadap Palestina terjadi di tengah kian mesranya hubungan Israel dengan para pemimpin muslim. Mereka seolah meninggalkan Palestina sendirian berjuang menentukan nasibnya.</p>
<p>Sekitar dua minggu sebelumnya, tepatnya pada 28 Maret 2022, telah terjadi pertemuan antara perwakilan sejumlah negara-negara Arab di Negev, Israel. Pertemuan tersebut dihadiri oleh perwakilan dari negara Maroko, Mesir, Uni Emirat Arab, Bahrain, Israel, dan Amerika Serikat. Mereka membahas tentang perluasan kerjasama di bidang energi, lingkungan dan keamanan, serta program nuklir Iran.</p>
<p>UEA dan Bahrain sendiri telah menormalisasi hubungan dengan Israel sejak 2020 lalu. Saat itu, Amerika Serikat di bawah kepemimpinan Donald Trump menginisiasi Perjanjian Abraham dengan latar belakang kepentingan komersial dan kekhawatiran bersama tentang Iran.</p>
<p>Adapun Mesir sudah jauh lebih dulu menjalin kemesraan sejak 1979. Sedangkan, Maroko melakukan normalisasi hubungan dengan Israel beberapa saat setelah Bahrain dan UEA. Juga atas inisiasi Amerika.</p>
<p>Di luar pertemuan tersebut, normalisasi juga nampak dari kunjungan pejabat dan pemimpin Israel ke beberapa negara Arab dan Islam lainnya. Salah satunya kunjungan Presiden Israel Isaac Herzog kepada Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan pada 9 Maret 2022 di Ankara.</p>
<p>Presiden Erdogan menyatakan negaranya dan Israel berusaha menghidupkan kembali dialog politik bilateral berdasarkan kepentingan bersama. Sementara Perdana Menteri Israel Naftali Bennett berkata, “Sambutan hangat untuk Presiden Israel Isaac Herzog, lagu kebangsaan Israel di Istana di Ankara, momen yang menyenangkan.”</p>
<p>Sungguh semua realitas ini sangat memilukan, terlebih selama ini negeri-negeri muslim dianggap sebagai mitra strategis bagi rakyat Palestina dalam memperjuangkan hak-hak mereka.</p>
<p>Suara lantang para pemimpin muslim dalam persoalan Palestina hanyalah sandiwara, mereka lebih takut kepada tuan penjajahnya daripada kepada kaum muslim dunia dan Tuhannya.</p>
<p>Bahkan, mereka lantang mengutuk Rusia dalam aksinya di Ukraina, sementara mereka diam atas pembantaian dan kezaliman yang dipertontonkan Israel pada Muslim Palestina dari masa ke masa.</p>
<p><strong>Secercah Harapan Untuk Palestina</strong></p>
<p>Realitas ini harusnya membuka mata kita, mengapa masalah Palestina tak kunjung usai bahkan semakin merajalela. Keadilan yang nyata untuk Palestina hanya bisa terealisasi ketika kejahatan Israel berhasil dihentikan secara total bukan dengan perjanjian-peranjian semu yang tak tentu arah.</p>
<p>Namun, masih ada secercah harapan bagi Palestina yaitu dengan perang atau jihad maka penderitaan rakyat Palestina akan berakhir. Selama ini jihad defensif yang telah dilakukan Palestina tidak cukup untuk mengusir mereka. Palestina perlu kepemimpinan Islam sebagai kesatuan politik dan militer yang hanya ada dalam sistem Islam.</p>
<p>Kepemimpinan inilah yang akan senantiasa siap menjadi benteng pelindung rakyat Palestina dan memobilisir kekuatan muslim seluruh dunia untuk melakukan jihad, memerangi kejahatan Israel.</p>
<p>Sehingga Palestina tidak lagi berjuang sendirian, ada yang membela serta memberi bantuan militer. Dengan begitu Palestina akan tampil kuat mengambil kambali hak-hak mereka.</p>
<p>Dalam kepemimpinan Islam inilah kedamaian akan terwujud bukan hanya bagi Palestina saja tapi untuk seluruh dunia, insyaallah.</p>
<p>Artikel <a href="https://porosmedia.com/dunia-sibuk-bela-ukraina-kezaliman-di-palestina-semakin-merajalela/">Dunia Sibuk Bela Ukraina, Kezaliman di Palestina Semakin Merajalela</a> pertama kali tampil pada <a href="https://porosmedia.com">Porosmedia.com</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>5 Amalan Malam Lailatul Qadar, Lakukan di 10 Hari Terakhir Bulan Ramadan</title>
		<link>https://porosmedia.com/5-amalan-malam-lailatul-qadar-lakukan-di-10-hari-terakhir-bulan-ramadan/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Syarifah Tun Naza]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 14 Apr 2022 08:04:23 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Poros Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Ragam]]></category>
		<category><![CDATA[Amalan Lailatul Qadar]]></category>
		<category><![CDATA[Bulan Ramadan]]></category>
		<category><![CDATA[Lailatul Qadar]]></category>
		<category><![CDATA[Malam Lailatul Qadar]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://porosmedia.com/?p=11937</guid>

					<description><![CDATA[<p>Porosmedia.com &#8211; Amalan apa saja yang bisa dilakukan di Malam Lailatul Qadar? Simak rangkuman berikut....</p>
<p>Artikel <a href="https://porosmedia.com/5-amalan-malam-lailatul-qadar-lakukan-di-10-hari-terakhir-bulan-ramadan/">5 Amalan Malam Lailatul Qadar, Lakukan di 10 Hari Terakhir Bulan Ramadan</a> pertama kali tampil pada <a href="https://porosmedia.com">Porosmedia.com</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong><a href="https://porosmedia.com">Porosmedia.com</a> &#8211; </strong>Amalan apa saja yang bisa dilakukan di Malam Lailatul Qadar? Simak rangkuman berikut. Malam Lailatul Qadar memiliki keutamaan yang sangat Malam Lailatul Qadar memiliki keutamaan yang sangat besar, karena malam ini merupakan malam yang lebih baik dari seribu bulan.</p>
<p>Keutamaan malam Lailatul Qadar ini dijelaskan dalam firman Allah Subhanahu wa ta&#8217;ala:</p>
<h3 style="text-align: center;">لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ</h3>
<p>&#8220;Malam kemuliaan itu lebih baik dari 1.000 bulan.&#8221; (QS Al Qadr: 3).</p>
<p>Maksudnya ialah ibadah di malam Lailatul Qadar itu lebih baik dari ibadah di seribu bulan lainnya yang tidak terdapat Lailatul Qadar.</p>
<p>Tidak ada yang tahu kapan terjadinya malam Lailatul Qadar, karena waktunya dirahasiakan oleh Allah SWT.</p>
<h2>5 Amalan pada Malam Lailatul Qadar</h2>
<p>Namun, ada banyak amalan ibadah yang bisa dilakukan untuk meraih malam Lailatul Qadar di antaranya sebagai berikut:</p>
<h3>1. Mendirikan Sholat Malam</h3>
<p>Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda:</p>
<h3 style="text-align: center;">مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ</h3>
<p>&#8220;Barang siapa melaksanakan sholat pada malam Lailatul Qadar karena iman dan mengharap pahala dari Allah, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.&#8221; (HR Bukhari Nomor 1901).</p>
<h3>2. Membaca Al-Quran</h3>
<p>Perbanyak baca Al-Quran pada malam Lailatul Qadar, selain itu jangan lupa untuk menyerap makna dan tafsirnya.</p>
<h3>3. Menjalankan Itikaf</h3>
<p>Itikaf adalah berhenti atau tinggal di masjid dengan syarat tertentu. Itikaf dilakukan dengan niat semata-mata beribadah karena Allah SWT.</p>
<p>Itikaf merupakan momen untuk mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa dengan melakukan serangkaian ibadah seperti sholat sunnah, dzikir, serta ibadah lainnya.</p>
<h3>4. Bertobat, Raih Amalan di Malam Lailatul Qadar</h3>
<p>Bertobatlah untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Selain bisa mendapatkan kesempatan untuk mendapatkan ampunan dari Allah SWT, juga dapat membuka peluang untuk meraih berkah pada malam Lailatul Qadar.</p>
<h3>5. Membaca Doa pada Malam Lailatul Qadar</h3>
<p>Hadits yang mengenai doa ini adalah sebagai berikut:</p>
<h3 style="text-align: center;">عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَرَأَيْتَ إِنْ عَلِمْتُ أَىُّ لَيْلَةٍ لَيْلَةُ الْقَدْرِ مَا أَقُولُ فِيهَا قَالَ قُولِى اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّى</h3>
<p>&#8220;Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata, &#8216;Aku pernah bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu jika saja aku tahu bahwa suatu malam adalah malam Lailatul Qadar, lantas apa doa yang mesti kuucapkan?&#8217; Jawab Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam, &#8216;Berdoalah: Allahumma Innaka ‘Afuwwun Tuhibbul ‘Afwa Fa’fu ’Annii (artinya: Ya Allah, Engkau Maha Memberikan Maaf dan Engkau suka memberikan maaf &#8211; menghapus kesalahan, karenanya maafkanlah aku &#8211; hapuslah dosa-dosaku)&#8221;.</p>
<p>Artikel <a href="https://porosmedia.com/5-amalan-malam-lailatul-qadar-lakukan-di-10-hari-terakhir-bulan-ramadan/">5 Amalan Malam Lailatul Qadar, Lakukan di 10 Hari Terakhir Bulan Ramadan</a> pertama kali tampil pada <a href="https://porosmedia.com">Porosmedia.com</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Perjanjian Hudaibiyah: Latar Belakang, Isi, Penulis dan Pelanggarannya</title>
		<link>https://porosmedia.com/perjanjian-hudaibiyah-latar-belakang-isi-penulis-dan-pelanggarannya/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fbrzio Tanjung]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 14 Apr 2022 04:00:29 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Poros Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[Nabi Muhammad SAW]]></category>
		<category><![CDATA[Perjanjian Hudaibiyah]]></category>
		<category><![CDATA[Sahabat Nabi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://porosmedia.com/?p=11922</guid>

					<description><![CDATA[<p>Porosmedia.com, Sejarah &#8211; Perjanjian Hudaibiyah merupakan tonggak awal kemenangan Islam pada masa itu. Meskipun sebenarnya...</p>
<p>Artikel <a href="https://porosmedia.com/perjanjian-hudaibiyah-latar-belakang-isi-penulis-dan-pelanggarannya/">Perjanjian Hudaibiyah: Latar Belakang, Isi, Penulis dan Pelanggarannya</a> pertama kali tampil pada <a href="https://porosmedia.com">Porosmedia.com</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong><a href="https://porosmedia.com">Porosmedia.com</a>, <a href="https://porosmedia.com/ragam/sejarah/" target="_blank" rel="noopener">Sejarah</a> &#8211; </strong>Perjanjian Hudaibiyah merupakan tonggak awal kemenangan Islam pada masa itu. Meskipun sebenarnya perjanjian ini belum terencana sebelumnya, namun dari sini lah kemudian Islam bangkit dan berani melawan.</p>
<p>Nabi Muhamad SAW merupakan pimpinan dari ribuan umat Islam yang ikut berjuang dalam peristiwa ini. Mereka melawan kaum Quraisy yang memang sebelumnya telah membenci pasukan Islam.</p>
<h2>Latar Belakang Perjanjian Hudaibiyah</h2>
<p>Perjanjian Hudaibiyah diawali oleh perjalanan yang cukup panjang. Latar belakang yang mendasarinya yaitu:</p>
<h3>1. Berawal dari Mimpi</h3>
<p>Nabi Muhammad SAW telah mendapatkan mimpi yang penuh makna. Dalam mimpi tersebut, Nabi Muhammad SAW diminta untuk mengajak umatnya pergi umroh ke Mekah. Mereka kemudian tawaf dan beribadah di dalam Masjidil Haram dengan aman dan khusyuk. Peristiwa ini terjadi pada tahun 6 Hijriah. Mimpi ini bahkan juga diabadikan dalam Alquran, yaitu pada surat Al-Fath ayat 27.</p>
<p>&#8220;Sesungguhnya Allah akan membuktikan kepada Rasul-Nya tentang kebenaran mimpinya dengan sebenarnya, (yaitu) bahwa sesungguhnya kamu pasti akan memasuki Masjidil Haram, insya Allah dalam keadaan aman, mencukur rambut dan mengguntingnya, sedang kamu tidak merasa takut. Maka Allah mengetahui apa yang tiada kamu ketahui dan Dia memberikan sebelum itu kemenangan yang dekat.&#8221;</p>
<h3>2. Rencana Keberangkatan Umroh</h3>
<p>Setelah mendapatkan mimpi tersebut, Nabi Muhammad SAW pun segera menyampaikan hal ini kepada umatnya. Beliau merupakan utusan Allah, tentu saja semua yang terjadi memang benar apa adanya dan mereka percaya bahwa Allah tidak pernah ingkar dalam setiap firman-Nya. Setelah selesai menyampaikan wahyu dari Allah maka Nabi Muhammad dan umatnya bergegas menyiapkan diri.</p>
<p>Nabi Muhammad SAW segera mengajak warga Madinah untuk menyiapkan kebutuhan dan perlengkapan untuk bekal umroh. Umat Islam Madinah begitu gembira setelah mendengar wahyu ini. Mereka sudah 6 tahun bersabar karena tidak bisa berkunjung ke Mekah untuk umroh atau haji. Persiapan rencana umroh ini terjadi pada bulan Dzulqa’dah tahun ke-6 Hijriah atau 638 Masehi.</p>
<h3>3. Tanggapan Kaum Quraisy</h3>
<p>Wahyu tentang keberangkatan umroh dari Nabi Muhammad ternyata sudah sampai pada kaum Quraisy yang ada di Mekah. Memang sudah bukan lagi rahasia, bahwa antara kaum Quraisy (Mekah) dan kaum Muhajirin-Anshar (Madinah) telah mengalami perselisihan. Kaum Quraisy merupakan kaum terbesar yang sangat membenci dan memusuhi kaum Muslimin.</p>
<p>Setelah mendengar kabar bahwa Nabi Muhammad SAW dan umatnya kan memasuki Kota Mekah, tentu membuat mereka geram dan “panik”. Kaum Quraisy segera menyiapkan ribuan pasukan untuk menghadang Nabi Muhamad SAW dan umatnya. Mereka berusaha mencegah agar kaum Muslimin tidak melakukan ibadah umroh di Mekah.</p>
<h3>4. Perjalanan Umroh dan Upaya Diplomasi</h3>
<p>Di sisi lain, Nabi Muhammad SAW dan umatnya telah bertolak dari Madinah menuju Mekah. Setibanya di Kota Asfan, mereka bertemu salah seorang yang membawa kabar bahwa kaum Quraisy telah siap menghadang dengan ribuan pasukan perang. Mendengar kabar tersebut, Nabi Muhammad SAW kemudian berupaya untuk meredamnya.</p>
<p>Nabi Muhammad mengutus sahabatnya, yaitu Usman Bin Affan untuk menemui kaum Quraisy. Tujuannya adalah untuk berunding secara diplomasi agar tidak terjadi pertumpahan darah di tanah suci Mekah. Namun ternyata, Usman bin Affan justru disandera oleh pihak Quraisy. Hal ini jelas memicu kemarahan umat Islam dari Madinah yang kala itu sudah menempuh separuh perjalanan.</p>
<h3>5. Perundingan Perjanjian Hudaibiyah</h3>
<p>Kaum Muslimin sangat marah dan mengancam akan menyerang kaum Quraisy tanpa ampun jika Usman bin Affan tidak dibebaskan. Ancaman tersebut ternyata berhasil menakut-nakuti kaum Quraisy. Usman bin Affan pun dilepaskan dan kembali ke rombongan. Mereka akhirnya menerima ajakan Nabi Muhammad SAW untuk berunding menyelesaikan masalah.</p>
<p>Nabi Muhammad SAW mengutus sahabatnya yang lain, yaitu Suhail bin Amar untuk berunding bersama kaum Quraisy. Perundingan tersebut akhirnya telah menemui titik terang. Hasilnya dikenal dengan sebutan Perjanjian Hudaibiyah. Peristiwa ini terjadi pada bulan Dzulqa’dah tahun ke-6 Hijriah di Kota Hudaibiyah, letaknya sekitar 22 kilometer dari Mekah.</p>
<h2>Isi Perjanjian Hudaibiyah</h2>
<p>Perjanjian yang dilakukan oleh kaum Quraisy dan kaum Muhajirin-Anshar berisi tentang beberapa hal berikut:</p>
<h3>1. Umroh Ditunda</h3>
<p>Kesepakatan yang pertama adalah ditundanya ibadah umroh yang saat itu akan di laksanakan. Nabi Muhammad SAW dan umatnya boleh melaksanakan ibadah umroh pada tahun berikutnya.</p>
<h3>2. Boleh Membawa Senjata yang Lazim</h3>
<p>Kota Madinah dan Mekah berjarak cukup jauh. Semua rombongan Nabi Muhammad SAW boleh membawa senjata, namun hanya berupa tombak dan pedang yang disarungkan. Pada masa itu, kedua senjata ini sudah lazim dibawa oleh musafir saat berpergian dengan jarak yang jauh.</p>
<h3>3. Menjalin Perdamaian Selama 10 Tahun</h3>
<p>Perjanjian Hudaibiyah juga berisi tentang jalinan perdamaian yang berlaku selama 10 tahun. Maka, antara kaum Quraisy di Mekah dan kaum Muhajirin-Anshar di Madinah tidak boleh terlibat perselisihan dan peperangan.</p>
<h3>4. Aturan Kunjungan</h3>
<p>Terakhir, perjanjian ini mengatur tentang prosedur kunjungan. Saat Nabi Muhammad SAW dan umatnya dari Madinah datang ke Mekah, maka warga Mekah tidak perlu mengantar rombongan dari Madinah. Namun hal ini berlaku sebaliknya, saat kaum Quraisy dari Mekah berkunjung ke Madinah, maka warga Madinah harus mengantar kaum Quraisy ke Mekah.</p>
<p>Selain itu, ada aturan kunjungan lain yaitu saat warga Madinah berkunjung ke Mekah namun tidak melakukan ibadah haji. Jika benar demikian, maka tahun berikutnya mereka hanya boleh berkunjung ke Mekah selama 3 hari saja. Hal ini tentu membuat warga Madinah tidak bisa melakukan ibadah haji.</p>
<h2>Pelanggaran Perjanjian Hudaibiyah</h2>
<p>Baru 2 tahun berjalan, perjanjian ini sudah dilanggar oleh kaum Quraisy. Pelanggaran tersebut awalnya berupa perselisihan antara Kabilah Bani Khuza’ah (sekutu kaum Muslimin) dan Kabilah Bani Bakr (sekutu kaum Quraisy). Perselisihan tersebut mengakibatkan pertempuran yang juga melibatkan kaum Quraisy secara massal.</p>
<p>Akibat pertempuran tersebut, banyak pasukan dari pihak Bani Khuza’ah yang mati dibunuh oleh pasukan Quraisy. Peretmpuran ini menjadi pelanggaran paling berat terhadap perjanjian yang sudah disepakati oleh Nabi Muhammad SAW dan Abu Sufyan (pimpinan kaum Quraisy). Menurut catatan sejarah, Abu Sufyan sempat meminta maaf pada Nabi Muhammad SAW, namun ditolak. Wallahu a’lam bishowab.</p>
<h2>Penulis Perjanjian Hudaibiyah</h2>
<p>Perjanjian ini ditulis oleh sahabat Rasul yaitu Ali bin Abi Thalib. Ali bin Abi Thalib merupakan sahabat sekaligus menantu Nabi Muhammad, karena beliau telah menikah dengan Fatimah, puteri Nabi Muhammad SAW. Selain sebagai penulis naskah perjanjian, Ali bin Abi Thalib juga berperan sebagai saksi. Perjanjian ini telah disaksikan dan ditandatangani oleh beberapa tokoh penting, yaitu:</p>
<h3>1. Kaum Muhajirin-Anshar (Madinah)</h3>
<ul>
<li>Nabi Muhammad SAW</li>
<li>Sakri</li>
<li>Abu Bakar As-Shiddiq</li>
<li>Abdurrahman bin ’Auf</li>
<li>Umar bin Khattab</li>
<li>Abdullah bin Suhail</li>
<li>Sa’ad bin Abi Waqas</li>
<li>Muhammad bin Maslamah</li>
</ul>
<h3>2. Kaum Quraisy (Mekah)</h3>
<ul>
<li>Miqdad bin Hafsh</li>
<li>Abu Sufyan</li>
</ul>
<h3>3. Kaum Quraisy yang Menghadang Kaum Muhajirin-Anshar</h3>
<ul>
<li>Urwah bin Mas’ud</li>
<li>Al-Hulais bin Al-Qamah</li>
</ul>
<p>Perjanjian Hudaibiyah menjadi bukti bahwa Nabi Muhammad SAW merupakan sosok yang pandai bernegosiasi, bahkan terhadap musuh terbesar sekalipun. Setelah kaum Quraisy melanggar, terjadi lah pertempuran besar antara kedua pihak. Namun atas kuasa Allah, pasukan Nabi Muhammad SAW berhasil menaklukan kaum Quraisy dan Kota Mekah.</p>
<p>Artikel <a href="https://porosmedia.com/perjanjian-hudaibiyah-latar-belakang-isi-penulis-dan-pelanggarannya/">Perjanjian Hudaibiyah: Latar Belakang, Isi, Penulis dan Pelanggarannya</a> pertama kali tampil pada <a href="https://porosmedia.com">Porosmedia.com</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Arti Nama Allah Al-Haqq dan Dalilnya di Al-Quran</title>
		<link>https://porosmedia.com/arti-nama-allah-al-%e1%b8%a5aqq-dan-dalilnya-di-al-quran/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Suci Sukmawati]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 08 Apr 2022 08:14:29 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Poros Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Ajaran Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Bulan Puasa]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://porosmedia.com/?p=11349</guid>

					<description><![CDATA[<p>Poros Media &#8211; Al-Ḥaqq adalah nama dan sifat Allah yang berarti Yang Benar. Ini mengacu...</p>
<p>Artikel <a href="https://porosmedia.com/arti-nama-allah-al-%e1%b8%a5aqq-dan-dalilnya-di-al-quran/">Arti Nama Allah Al-Haqq dan Dalilnya di Al-Quran</a> pertama kali tampil pada <a href="https://porosmedia.com">Porosmedia.com</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://porosmedia.com/">Poros Media</a> &#8211; Al-Ḥaqq adalah nama dan sifat Allah yang berarti Yang Benar. Ini mengacu pada Allah sebagai Yang Benar dan kenyataan yang harus selalu kita tundukkan. Bimbingan-Nya adalah petunjuk terbaik yang penuh kebenaran untuk jalan kita menuju kesuksesan.</p>
<p>“Ḥaqq” adalah kata Arab yang mengacu pada keyakinan akan keberadaan sesuatu, dan itu sesuai dengan kenyataan. Merujuk kepada Allah, nama “al-Ḥaqq” menunjuk pada esensi Allah sebagai model kebenaran, yang keberadaannya kita yakini dan bahwa ini sesuai dengan kenyataan.</p>
<p>Nama Allah ini telah digunakan berkali-kali dalam Al-Qur&#8217;an. Di bawah ini adalah beberapa contoh:</p>
<p>“Tinggi di atas segalanya adalah Allah, Raja Sejati!<strong> </strong>Tidak ada Tuhan selain Dia, Tuhan Arsy yang Mulia.” (Qur&#8217;an 23:116)</p>
<p>“Kemudian mereka semua akan dikembalikan kepada Allah, Guru Sejati mereka<strong>. </strong>Tidak diragukan lagi, milik-Nyalah keputusan, dan Dialah yang paling cepat perhitungannya.” (Qur&#8217;an 6:62)</p>
<p>“Yang demikian itu karena sesungguhnya Allah Maha Benar <strong>,</strong> dan karena sesungguhnya Dia menghidupkan orang mati, dan karena sesungguhnya Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (Qur&#8217;an 22:6)</p>
<p>Ayat-ayat di atas menggunakan nama “al-Ḥaqq” karena Allah menggambarkan Dia sebagai “Raja Sejati”, “Tuan Sejati” dan “Kebenaran”, memberikan pemahaman kepada umat manusia tentang pentingnya nama Allah ini dan betapa dalamnya terhubung dengan-Nya.</p>
<p>Nama Allah ini juga telah digunakan dalam hadits:</p>
<p>“Ketika Nabi Muhammad bangun di malam hari untuk shalat, dia akan berdoa dengan kata-kata berikut:<br />
أَنْتَ الحَقُّ، وَوَعْدُكَ الحَقُّ، وَقَوْلُكَ الحَقُّ، وَلِقَاؤُكَ حَقٌّ، وَالجَنَّةُ حَقٌّ ۔۔۔”</p>
<p><em>Antal-ḥaq wa wa&#8217;dukal-ḥaq, wa liqā&#8217;uka aq, wa qualuka ḥaq, wal-jannatu aq wan-nāru aq…</em></p>
<p><em>Lanjut halaman berikutnya &gt;&gt;&gt;</em></p>
<p>Artikel <a href="https://porosmedia.com/arti-nama-allah-al-%e1%b8%a5aqq-dan-dalilnya-di-al-quran/">Arti Nama Allah Al-Haqq dan Dalilnya di Al-Quran</a> pertama kali tampil pada <a href="https://porosmedia.com">Porosmedia.com</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Puasa dan Nikmat yang Tertunda</title>
		<link>https://porosmedia.com/puasa-dan-nikmat-yang-tertunda/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Suci Sukmawati]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 08 Apr 2022 08:02:10 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Poros Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Bulan Ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[Nikmat]]></category>
		<category><![CDATA[puasa]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://porosmedia.com/?p=11327</guid>

					<description><![CDATA[<p>Porosmedia.com &#8211; Kita hidup dimana masa kepuasan ingin serba instan. Saat dimana kita menginginkan segalanya...</p>
<p>Artikel <a href="https://porosmedia.com/puasa-dan-nikmat-yang-tertunda/">Puasa dan Nikmat yang Tertunda</a> pertama kali tampil pada <a href="https://porosmedia.com">Porosmedia.com</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: left;"><strong><a href="https://porosmedia.com/">Porosmedia.com</a> </strong>&#8211; Kita hidup dimana masa kepuasan ingin serba instan. Saat dimana kita menginginkan segalanya segera. Slogannya semuanya selalu tentang segera, &#8220;mematuhi rasa haus Anda&#8221;, &#8220;lakukan dengan cara Anda&#8221;, dan &#8220;lakukan saja!&#8221; adalah pernyataan yang kita lihat dan dengar setiap hari yang memanggil kita untuk menyerah pada apa yang kita inginkan.</p>
<p style="text-align: left;">Bagaimana jika kita berhenti sejenak dan bertanya pada diri sendiri apa yang akan terjadi jika kita mengganti gratifikasi instan dengan gratifikasi tertunda? Puasa adalah praktik sehari-hari dari kepuasan yang tertunda. Tujuan puasa, menurut Al-Qur&#8217;an, adalah untuk mencapai hal yang disebut <em>taqwa .</em> yaitu disiplin diri yang dihasilkan dari kesadaran akan Tuhan.</p>
<p>Apa sebenarnya kepuasan yang tertunda itu? Hal ini sering didefinisikan sebagai kemampuan untuk menahan godaan kesenangan yang instan. Alih-alih menyerah pada godaan, Anda bertahan dengan harapan mendapatkan imbalan masa depan yang lebih baik atau lebih tahan lama.</p>
<p>Sederhananya, kepuasan yang tertunda berarti menunggu apa yang benar-benar Anda inginkan. Di sisi lain, kepuasan instan adalah puas dengan sesuatu yang segera alih-alih menunggu apa yang Anda inginkan.</p>
<p>Banyak orang yang mengalami ketidaknyamanan berusaha untuk segera mengatasinya menggunakan bentuk bantuan sementara seperti minum, narkoba, perjudian, atau waktu layar yang tidak pernah berakhir.</p>
<p>Setiap tindakan yang kita lakukan dilakukan dalam upaya untuk mencapai kesenangan atau menghindari rasa sakit, dan mereka sering dilakukan dengan mengorbankan satu sama lain. Misalnya, jika seseorang ingin menurunkan berat badan, makan donat membawa kesenangan langsung, tetapi ini kemudian diikuti oleh rasa sakit karena penyesalan.</p>
<p>Solusi untuk banyak masalah kita seringkali membutuhkan jalan kepuasan yang tertunda. Kepuasan yang tertunda, meskipun lebih menantang, memiliki pengembalian investasi yang luar biasa dan memungkinkan orang untuk menghindari rasa sakit yang signifikan.</p>
<p>Pada tahun 1972, seorang psikolog Stanford melakukan eksperimen yang disebut tes Marshmallow. Dalam penelitian ini, seorang anak ditawari pilihan antara satu hadiah kecil tapi langsung, atau dua hadiah kecil tapi mereka menunggu untuk jangka waktu tertentu.</p>
<p>Dalam studi lanjutan, para peneliti menemukan bahwa anak-anak yang mampu menunggu lebih lama untuk hadiah yang disukai cenderung memiliki hasil hidup yang lebih baik, yang diukur dengan skor SAT, pencapaian pendidikan, indeks massa tubuh, dan ukuran kehidupan lainnya.</p>
<p>Sebuah penelitian baru yang dilakukan pada tahun 2020 menemukan bahwa anak-anak tampil lebih baik dalam eksperimen Marshmallow ketika mereka bekerja sama. Puasa selama <em>Allah menghendaki kemudahan bagimu dan Dia tidak menghendaki kesulitan</em> (QS 2:185).</p>
<p>Bulan Ramadhan mendorong umat Islam untuk mempraktekkan gratifikasi tertunda setiap hari, dari matahari terbit sampai terbenam. Untuk memudahkan mereka, Allah telah menetapkan bahwa semua Muslim melakukannya bersama-sama.</p>
<p>Baru-baru ini muncul penelitian tentang manfaat penundaan gratifikasi, tetapi manfaat ini tertanam dalam ritual puasa Islam. Allah, dalam ilmu dan hikmah tertinggi-Nya, tidak ingin umat Islam menghadapi kesulitan, tetapi mengetahui bahwa puasa akan memiliki dampak abadi yang akan lebih baik bagi manusia dalam jangka panjang. Bahkan, ayat tentang puasa diakhiri dengan firman Allah:</p>
<p>Puasa menanamkan dalam diri seseorang rasa disiplin diri yang sepenuhnya antara mereka dan Tuhan. Karena makan dan minum dapat dengan mudah dilakukan tanpa diketahui orang lain, maka hakikat puasa atau tidaknya seseorang itu adalah urusannya dengan Tuhan.</p>
<p>Ini menanamkan rasa kejujuran dan kebenaran pada diri sendiri tentang kepatuhan mereka terhadap hukum. Puasa dimaksudkan untuk menanamkan pada orang kemampuan untuk mengawasi diri mereka sendiri untuk melakukan apa yang baik.</p>
<p>Seseorang tidak perlu menahan diri dari mencuri hanya takut karena ada kamera, tetapi karena Tuhan melihat dan mengetahui bahwa ini pada akhirnya adalah hal yang jahat untuk dilakukan. Ketika Anda memperoleh kemampuan untuk melepaskan kesenangan langsung untuk tujuan jangka panjang, Anda akhirnya menjadi orang yang lebih bahagia.</p>
<p>Pengendalian diri adalah inti dari puasa. Nabi Muhammad SAW bersabda:</p>
<p>“Barangsiapa yang tidak meninggalkan ucapan dusta dan mengamalkannya, maka Allah tidak membutuhkannya untuk meninggalkan makan dan minumnya” (HR Bukhari).</p>
<p>Nabi SAW juga bersabda: “Jika salah satu dari kalian berpuasa, janganlah dia mengucapkan kata-kata kotor atau bertindak dengan cara yang bodoh, dan jika ada yang menghinanya atau ingin memeranginya, katakanlah, aku sedang berpuasa. ” (Bukhori).</p>
<p>Kita melihat bahwa menahan diri dari makan dan minum bukanlah tujuan puasa, tetapi kemampuan untuk mengendalikan diri.</p>
<p>Dalam hidup, selalu ada pilihan. Seperti apakah Anda ingin bermain video game atau belajar? Apakah Anda ingin membeli gadget terbaru atau menghemat uang untuk rumah? Pemuasan yang tertunda, meskipun lebih sulit untuk dilakukan, tetapi memberikan imbalan yang lebih baik daripada yang akan diperoleh seseorang dalam jangka pendek.</p>
<p>Puasa di bulan Ramadhan membantu menanamkan gagasan tentang gratifikasi yang tertunda dalam kehidupan umat Islam. Masyarakat saat ini terobsesi dengan kepuasan langsung. Namun, apakah ini pada akhirnya baik untuk kita? Al-Qur&#8217;an memberi kita rumus yang digunakan oleh mereka yang masuk surga dan mereka yang masuk api.</p>
<p><em>Adapun orang-orang yang melampaui batas dan lebih menyukai kehidupan dunia yang fana, maka neraka jahanam akan menjadi tempat tinggal mereka.</em></p>
<p><em>Dan orang-orang yang takut berdiri di hadapan Tuhan mereka dan menahan diri dari keinginan &#8216;jahat&#8217;, surga pasti akan menjadi rumah mereka</em> (Quran 79:37-41).</p>
<p>Artikel <a href="https://porosmedia.com/puasa-dan-nikmat-yang-tertunda/">Puasa dan Nikmat yang Tertunda</a> pertama kali tampil pada <a href="https://porosmedia.com">Porosmedia.com</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>7 Kiat Hadapi Cobaan Dengan Hati yang Positif</title>
		<link>https://porosmedia.com/7-kiat-hadapi-cobaan-dengan-hati-yang-positif/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Suci Sukmawati]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 07 Apr 2022 16:09:27 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Poros Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Ajaran Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Informasi Menarik]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://porosmedia.com/?p=11158</guid>

					<description><![CDATA[<p>Poros Media &#8211; Hati merupakan kekuatan pendorong bagi tubuh kita. Ketika hati kita puas, bahagia...</p>
<p>Artikel <a href="https://porosmedia.com/7-kiat-hadapi-cobaan-dengan-hati-yang-positif/">7 Kiat Hadapi Cobaan Dengan Hati yang Positif</a> pertama kali tampil pada <a href="https://porosmedia.com">Porosmedia.com</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong><a href="https://porosmedia.com/">Poros Media</a> &#8211;</strong> Hati merupakan kekuatan pendorong bagi tubuh kita. Ketika hati kita puas, bahagia dan penuh harapan, hidup berjalan dengan lancar. Namun, cobaan adalah bagian tak terpisahkan dari kehidupan. Beberapa dari cobaan ini membuat kita tertekan, cemas dan ketika mereka bertahan untuk waktu yang lama, kita bisa menjadi putus asa dan tertekan  pada situasi tersebut. Hati kami menjadi suram dan pertanyaan mulai memenuhi pikiran kami:</p>
<p>Mengapa doa saya tidak diterima?<br />
Dosa apa yang telah saya lakukan sehingga  mengalami cobaan seperti?<br />
Kapan pertolongan Allah subḥānahu wa ta&#8217;āla (Maha Suci dan Maha Suci Dia) akan datang?</p>
<p>Sebelum kita mulai dengan nasihat apa pun tentang bagaimana menangkal keputusasaan selama pencobaan, marilah kita mengingatkan diri kita sendiri tentang tujuan penciptaan kita.</p>
<p>Allah subḥānahu wa ta&#8217;āla (Maha Suci dan Maha Suci Dia) menyebutkan dalam Al-Qur&#8217;an:</p>
<p><em>“Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya untuk main-main saja. Kami menciptakan mereka tidak kecuali dengan kebenaran (yaitu untuk menguji dan menguji orang-orang yang taat dan orang-orang yang durhaka, kemudian memberi pahala kepada orang-orang yang taat dan menghukum orang-orang yang durhaka), tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.” [ Qur&#8217;an: Surat 44, Ayat 38-39 ]</em></p>
<p>Cobaan dalam hidup kita adalah sarana untuk menguji iman dan ketaatan kita kepada Allah subḥānahu wa ta&#8217;āla (Maha Suci dan Maha Suci Dia)dan mendapatkan pahala di dunia ini dan di akhirat. Allah subḥānahu wa ta&#8217;āla juga berfirman:</p>
<p><em>“Dan sesungguhnya Kami akan menguji kamu dengan ketakutan dan kelaparan dan kehilangan harta, jiwa dan buah-buahan, dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” [ Qur&#8217;an: Surat 2, Ayat 155 ]</em></p>
<p>Ayat yang satu ini sudah cukup bagi kita untuk menanggung semua cobaan dengan kesabaran karena Allah subḥānahu wa ta&#8217;āla (Maha Suci dan Maha Suci Dia)sendiri menyatakan akan datangnya kabar baik bagi mereka yang melakukannya. Namun seringkali, terlepas dari upaya kita untuk bersabar, awan keputusasaan mulai menutupi  hati kita. Mari kita telusuri beberapa poin yang in sya Allah akan membantu kita dalam menghadapi cobaan dengan kesabaran.</p>
<h3>1. Tanamkan Dalam Hati Bahwa Allah Subḥānahu Wa ta&#8217;āla adalah Penolongmu</h3>
<p>Bayangkan jika ibumu berjanji bahwa dia akan memperbaiki segalanya untukmu, kamu akan mempercayainya karena kamu tahu ibumu tidak akan meninggalkan sehelai daun pun untuk membawa kebaikan bagimu. Lalu bagaimana mungkin kita tidak percaya dengan janji Tuhan kita yang mencintai kita tujuh puluh kali lipat lebih dari ibu kita? Dia menjanjikan kita dalam Kitab-Nya, tidak hanya sekali tetapi dua kali,</p>
<p><em>“Karena sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan, sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.” [ Qur&#8217;an: Surat 94, Ayat 5-6 ]</em></p>
<p><em>Lanjut halaman berikutnya &gt;&gt;&gt;</em></p>
<p>Artikel <a href="https://porosmedia.com/7-kiat-hadapi-cobaan-dengan-hati-yang-positif/">7 Kiat Hadapi Cobaan Dengan Hati yang Positif</a> pertama kali tampil pada <a href="https://porosmedia.com">Porosmedia.com</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Papua Sayang Papua Malang, Dalam Kendali Kapitalisme</title>
		<link>https://porosmedia.com/papua-sayang-papua-malang-dalam-kendali-kapitalisme/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Agung Ismawan]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 02 Apr 2022 00:09:36 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Poros Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Poros Warga]]></category>
		<category><![CDATA[Ekonomi]]></category>
		<category><![CDATA[Kapitalisme]]></category>
		<category><![CDATA[Papua]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://porosmedia.com/?p=10435</guid>

					<description><![CDATA[<p>Porosmedia.com &#8211; Pulau Papua merupakan pulau terbesar dan yang paling timur di jajaran zamrud khatulistiwa....</p>
<p>Artikel <a href="https://porosmedia.com/papua-sayang-papua-malang-dalam-kendali-kapitalisme/">Papua Sayang Papua Malang, Dalam Kendali Kapitalisme</a> pertama kali tampil pada <a href="https://porosmedia.com">Porosmedia.com</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong><a href="https://porosmedia.com">Porosmedia.com</a> &#8211; </strong>Pulau Papua merupakan pulau terbesar dan yang paling timur di jajaran zamrud khatulistiwa. Di dalam perutnya terkandung kekayaan yang sangat melimpah. Tanah Papua, selalu jadi incaran para pemburu harta. Namun malang, Papua dala kendali kapitalisme.</p>
<p>Papua sayang, karena daya tarik kekayaannya. Tapi pada saat yang sama Papua malang, karena nasibnya tak seindah alamnya. Disana justru kemiskinan dan gizi buruk menimpa pribumi. Teror kekerasan pun tak henti menghantui pulau ini. Korban terus berjatuhan. Ada apa sebenarnya yang terjadi di Papua?</p>
<h3><strong>Tragedi di Papua Terus Terjadi, Dimana Peran Negara? </strong></h3>
<p>Para pegiat HAM mendesak pemerintah RI membentuk tim independen untuk investigasi kasus-kasus kekerasan di Papua.</p>
<p>Dewan HAM PBB menyatakan mereka menerima laporan pembunuhan di luar hukum di Papua, termasuk terhadap anak-anak, penghilangan orang, penyiksaan, serta pemindahan paksa sekitar 5.000 warga dalam kurun April-November 2021.</p>
<p>PBB juga memperkirakan sekitar 60.000 hingga 100.000 orang Papua mengungsi akibat kekerasan yang terus meningkat sejak kasus penembakan pekerja Trans Papua di Nduga pada Desember 2018.</p>
<p>Direktur Eksekutif Yayasan Keadilan dan Keutuhan Manusia Papua, Theo Esegem, mengatakan sulit menyalurkan bantuan kemanusiaan kepada masyarakat terdampak konflik, seperti di Yahukimo, akses bantuan dibatasi aparat juga di Pegunungan Bintang, pesawat dihalang. Pembela HAM tidak bisa masuk,&#8221; kata Theo kepada BBC News Indonesia, Kamis (3/3).</p>
<p>Komisi Nasional Hak Asasi Manusia atau Komnas HAM meminta semua pelaku kekerasan di Papua diproses secara hukum. Pihaknya juga berharap bisa bersama, berdialog dengan kelompok kriminal bersenjata di Papua.</p>
<p>Penembakan oleh kelompok kriminal bersenjata (KKB) kembali terjadi di Distrik Beoga, Kabupaten Puncak Papua, awal bulan lalu (04/03/2022). Serangan Tentara Pembebasan Nasional Organisasi Papua Merdeka tersebut menewaskan delapan warga sipil. Mereka adalah pekerja PT Palapa Timur Telematika (PTT).</p>
<p>Sementara dari LPSK mendesak pemerintah untuk menyatakan peristiwa kekerasan di Papua sebagai bentuk tindak pidana terorisme. Pemerintah dan aparat keamanan tidak perlu ragu menyatakan peristiwa itu sebagai bentuk teror di masyarakat,&#8221; kata Hasto dalam keterangan resminya, Sabtu (05/03/2022) dikutip dari Sindonews.com.</p>
<p>Publik dapat melihat betapa lemahnya negara dalam melindungi warga negaranya. Mengapa tak dikirim pasukan elit semacam kopassus bersenjata lengkap dan canggih guna mengusir separatis KKB. Tak cukupkah negara memahami ada aksi terorisme yang didukung kekuatan asing? Tak cukupkah negara sadar ada upaya separatisme yang menggoyang negara kesatuan RI? Faktanya negara hanya sibuk berkutat dengan radikal radikul yang tak jelas definisinya.</p>
<h3>Papua dalam Kendali Kapitalisme Gagal Disejahterakan</h3>
<p>Negara seharusnya hadir menjalankan fungsinya dalam mewujudkan kesejahteraan secara merata dan adil. Bahkan negarapun wajib menjamin keamanan rakyat.</p>
<p>Namun apa yang terjadi di Papua? Kekayaan alamnya malah diserahkan pengelolaannya kepada asing. Inilah kenyataan bila negeri dalam kendali kapitalisme, dimana kekayaan Papua dikuasai hanya oleh segelintir para kapitalis oligarki. Sementara warga Papua hidup miskin tergerus zaman.</p>
<p>Papua dibuat membara tak lepas dari huru-hara, agar menjadi jalan bagi kekuatan asing yang mengincar kekayaan Papua. Hingga secara perlahan lepas dari pangkuan Indonesia. Di Papua dibangun opini tidak aman dan negara tak mampu melindungi serta memakmurkan Papua.</p>
<p>Negara yang menganut Demokrasi Kapitalisme bukan hanya gagal, karena justru akar masalahnya ada pada penerapan sistem ini.</p>
<h3>Papua Dalam Kendali Syariat Islam</h3>
<p>Islam menawarkan konsep politik ekonomi dalam islam yang berkeadilan dan mampu memberi jaminan kesejahteraan. Konsep ini telah teruji berabad lamanya dan terbukti menciptakan kemakmuran bagi setiap individu.</p>
<p>Sejahtera tidak diukur oleh angka-angka omong kosong. Politik ekonomi islam selama 13 abad diterapkan mampu menempatkan negara global islam sebagai adidaya dalam ekonomi. Kesehatan, Pendidikan, dan Keamanan yang berkualitas dipenuhi secara gratis. Sandang pangan dan papan tersedia secara mudah murah merata terjangkau di seluruh negri.</p>
<p>Maka tak heran sejarah mencatat ketika orang-orang kristen Yunani, mendapatkan perlindungan juga kesejahteraan sekalipun mereka non muslim, mereka kembali dan memilih hidup dalam naungan kedaulatan khilafah utsmany karena tidak tahan hidup menderita dalam tiran kekaisaran Rusia.</p>
<p>Syariat Islam mengatur kepemilikan dan pengelolaannya. Kekayaan alam tidak boleh dimiliki individu swasta apalagi asing. Semua milik rakyat dan dikelola bagi kesejahteraan rakyat. Negara mengelola dan mendistribusikan bagi rakyat melalui Baitul Maal.</p>
<p>Khatimah, sulit kita berharap solusi pada demokrasi kapitalisme. Maka tak ada pilihan kalau negara betul-betul serius ingin rakyat di Papua hidup sejahtera, maka satu-satunya cara bila berada dalam kendali islam.<br />
Wallahu&#8217;alam bish shawab.</p>
<h5><em>Rengganis Santika A, STP</em></h5>
<p>&nbsp;</p>
<p>Artikel <a href="https://porosmedia.com/papua-sayang-papua-malang-dalam-kendali-kapitalisme/">Papua Sayang Papua Malang, Dalam Kendali Kapitalisme</a> pertama kali tampil pada <a href="https://porosmedia.com">Porosmedia.com</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
