Porosmedia.com – Alexander Theodore Lamoh—lebih dikenal sebagai Ecky Lamoh—adalah satu dari sedikit vokalis Indonesia yang berhasil menempatkan dirinya sebagai ikon dalam dua dunia yang berbeda: art rock yang penuh ruang eksplorasi, dan heavy metal yang menuntut presisi, tenaga, dan keberanian penuh. Di tengah dinamika musik Indonesia era 80–90-an, Ecky hadir sebagai sosok yang lekat di ingatan: vokalis dengan jangkauan tinggi, karakter suara serak bertenaga, dan dedikasi yang nyaris total kepada musik.
Lahir di Jakarta pada 13 Juli 1961, Ecky tumbuh sebagai pribadi pendiam namun sensitif terhadap seni. Panggilan “Ecky” muncul dari bentuk pendek nama masa kecilnya, “Leki”, sementara “Lamoh” adalah marga keluarganya dari Minahasa, Sulawesi Utara—warisan identitas yang selalu ia bawa dalam perjalanan musiknya.
Perjalanan karier profesional Ecky memasuki titik krusial ketika ia bergabung dengan Elpamas pada akhir 1980-an. Pada periode ini, Elpamas sedang bergerak dari wilayah jazz-rock menuju gaya yang lebih tegas dan berenergi. Masuknya Ecky menjadi titik balik besar.
Di album “Pijar” (1990), vokalnya membawa warna baru—lebih ekspresif, lebih berani, dan lebih teatrikal. Lagu-lagu seperti “Pijar” atau “Pak Tua” menunjukkan kualitas suara yang tak hanya kuat secara teknis, tetapi juga emosional. Cara ia mengolah scream, falsetto, hingga power belt menjadikan Ecky sebagai karakter unik di panggung rock Indonesia.
Elpamas era Ecky bukan hanya soal kualitas vokal, tetapi juga bagaimana ia menerjemahkan pesan sosial yang banyak diangkat dalam lirik band tersebut. Ia membawakan kritik sosial dengan penghayatan penuh—sering dicatat para pengamat musik sebagai fase paling progresif dalam sejarah Elpamas.
Setelah meninggalkan Elpamas, Ecky menerima ajakan Eet Sjahranie dan Iwan Xaverius untuk mengisi posisi vokalis di proyek baru mereka: Edane. Pilihan ini melahirkan salah satu album metal paling berpengaruh di Indonesia, “The Beast” (1992).
Album debut ini menjadi bukti bahwa Ecky bukan sekadar vokalis rock, melainkan penyanyi metal murni yang jarang dimiliki Indonesia pada masanya. Konsep album yang mengusung lagu-lagu berbahasa Inggris, riff kompleks, dan beat agresif menuntut vokalis dengan stamina vokal luar biasa—dan Ecky menjawabnya dengan ketepatan.
Lagu “The Beast”, “Cry Out”, hingga “Ikuti” (satu-satunya lagu berbahasa Indonesia di album itu) menjadi tonggak perjalanan Edane, sekaligus fondasi identitas band tersebut hingga bertahun-tahun kemudian.
Meski hanya bertahan satu album, kontribusi Ecky di Edane dianggap menentukan arah band ini, bahkan menjadi referensi banyak vokalis metal generasi setelahnya.1
Setelah Edane, Ecky merilis album solo “L.A.M.O.H.” (1996). Album ini memperlihatkan sisi kreatifnya sebagai penyanyi dan penulis lagu, serta membuka ruang untuk genre yang lebih luas. Ia juga terlibat dalam berbagai proyek kolaborasi lintas generasi, termasuk merilis single di dekade 2020-an, menunjukkan bahwa semangat bermusiknya tak pernah padam.
Ecky dikenal sebagai pribadi hangat, terbuka, dan sangat perhatian pada musisi muda.
Banyak rekannya mengenang bagaimana ia dengan rendah hati berbagi pengalaman, dari teknik vokal hingga filosofi bermusik yang selalu ia pegang:
“Musik itu bukan soal bersuara paling keras. Musik itu tentang menyampaikan apa yang paling jujur dari dalam diri.”
—Ecky Lamoh, wawancara tahun 2018
Pada Minggu, 30 November 2025, Ecky Lamoh tutup usia di Yogyakarta setelah mengalami kondisi kesehatan yang cukup berat. Berbagai rekan musisi tercatat sempat melakukan penggalangan solidaritas untuk membantu proses pengobatannya—a potret kedekatan dan penghormatan komunitas musik terhadap sosok yang telah memberi banyak untuk rock Indonesia.
Kepergiannya meninggalkan duka mendalam. Namun warisan yang ia tinggalkan—baik melalui suara, karakter, maupun integritasnya—telah menjadi bagian penting dalam perjalanan musik Indonesia.
Ecky Lamoh bukan sekadar vokalis dengan nada tinggi;
ia adalah seniman yang hidup sepenuhnya untuk musik, dan berpulang dengan kehormatan seorang legenda.







