Arloji Terakhir Pak Sudarsono: Kisah Tentang Kebaikan di Kursi Belakang Taksi

Avatar photo

Porosmedia.com – Di bawah temaram lampu jalanan kota yang mulai sepi sekitar pukul 23.00 WIB, sebuah taksi online menepi. Mariono, sang pengemudi yang terbiasa dengan ritme shift malam, menyambut seorang pria tua dengan koper kecil. Namun, perjalanan malam itu bukanlah sekadar urusan tarif dan titik jemput.

​”Jangan lihat aplikasi. Antar saya ke lima tempat. Saya bayar satu juta rupiah tunai, tapi tolong jangan tanya apa pun sampai selesai,” ucap pria itu lirih.

​Malam itu, Mariono tidak hanya mengemudi; ia sedang menemani sebuah perpisahan.

​Napas Terakhir Sebuah Kenangan

​Perjalanan dimulai dengan sebuah rumah di pinggiran kota. Tanpa turun, pria yang belakangan diketahui bernama Pak Sudarsono itu hanya menatap bangunan tersebut selama sepuluh menit. Di balik kaca mobil, air matanya jatuh tanpa suara. Itulah rumah tempat ia membesarkan anak-anaknya.

​Roda terus berputar menuju sebuah Sekolah Dasar yang sunyi. Di sana, Pak Sudarsono turun, duduk di ayunan taman bermain dalam gelap. “Saya mengajar di sini selama 43 tahun. Ini kenangan terindah saya,” bisiknya saat kembali ke mobil.

Baca juga:  Pj Gubernur Jawa Barat Bey Triadi Machmudin Resmi Lantik Pj Wali Kota Cimahi Dicky Saromi.

​Titik ketiga adalah kafe tua—saksi kencan pertamanya di tahun 1967. Titik keempat adalah sebuah nisan di pemakaman umum, tempat sang istri beristirahat sejak tiga tahun silam. Di sana, ia berbicara pada angin, seolah sedang berpamitan sebelum menyusul.

​Pemberhentian Terakhir

​Perjalanan berakhir di sebuah rumah sakit. Pak Sudarsono akhirnya membuka tabir rahasianya. Ia mengidap kanker stadium empat dan malam itu adalah “tur perpisahan” terakhir sebelum ia masuk ke ruang perawatan paliatif untuk menunggu akhir hayatnya.

​”Anak saya sudah lama tidak bicara dengan saya. Teman-teman pun sudah mendahului. Malam ini, saya ingin melihat hidup saya sekali lagi,” tuturnya.

​Meski Mariono sempat menolak uang satu juta rupiah tersebut karena rasa iba yang mendalam, Pak Sudarsono bersikeras. Baginya, tiga jam kebaikan Mariono lebih berharga daripada lembaran kertas tersebut.

​Dua Minggu yang Mengubah Hidup

​Mariono tidak membiarkan pertemuan itu berakhir di lobi rumah sakit. Selama dua minggu berikutnya, ia rutin menjenguk Kamar 412. Ia membawakan kopi, membacakan berita, dan menjadi pendengar setia bagi penyesalan serta sukacita Pak Sudarsono.

Baca juga:  Semangat Kemerdekaan Menggelora di Kampung Bori

​”Saya pikir saya akan mati sendirian, tapi kamu di sini. Orang asing yang menjadi keluarga,” kata Pak Sudarsono sebelum mengembuskan napas terakhirnya pada Selasa dini hari pukul 03.17 WIB.

​Warisan yang Melampaui Uang

​Hanya ada enam orang di pemakamannya: Mariono, tiga perawat, seorang pengacara, dan satu mantan murid. Sebuah angka yang kontras untuk pria yang hidup 81 tahun dan mengabdi puluhan tahun sebagai guru.

​Kini, uang satu juta rupiah itu masih tersimpan rapi di laci mobil Mariono. Bukan untuk dibelanjakan, melainkan sebagai pengingat abadi.

​Mariono kini mengemudi dengan cara berbeda. Ia tidak lagi sekadar mengejar target pesanan. Ia belajar untuk benar-benar “melihat” penumpangnya. Karena di balik pintu mobil yang tertutup, setiap orang mungkin sedang memikul beban berat atau bahkan sedang menempuh perjalanan terakhir mereka.

Catatan Redaksi:

Kisah ini menjadi pengingat bagi kita semua bahwa kebaikan kepada orang asing bukanlah sekadar basa-basi sosial, melainkan inti dari kemanusiaan. Jadilah “hangat” bagi orang lain, karena kita tidak pernah tahu seberapa dingin dunia yang sedang mereka hadapi.