<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Paradoks - Porosmedia.com</title>
	<atom:link href="https://porosmedia.com/tag/paradoks/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://porosmedia.com/tag/paradoks/</link>
	<description>Sumber Informasi Independen, Aktual dan Terpercaya</description>
	<lastBuildDate>Fri, 24 Apr 2026 11:25:14 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.9.4</generator>

<image>
	<url>https://porosmedia.com/wp-content/uploads/2021/12/cropped-favicon-porosmedia.com_-1-32x32.png</url>
	<title>Paradoks - Porosmedia.com</title>
	<link>https://porosmedia.com/tag/paradoks/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Paradoks Pendidikan Jawa Barat; Menanti Kelas Menengah Baru di Tengah Jeratan Nasib Guru Honorer</title>
		<link>https://porosmedia.com/paradoks-pendidikan-jawa-barat-menanti-kelas-menengah-baru-di-tengah-jeratan-nasib-guru-honorer/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Jajat Sudrajat]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 24 Apr 2026 11:25:14 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Hukum]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[Ragam]]></category>
		<category><![CDATA[Guru Honorer]]></category>
		<category><![CDATA[Jeratan]]></category>
		<category><![CDATA[Kelas Menengah Baru]]></category>
		<category><![CDATA[Nasib]]></category>
		<category><![CDATA[Paradoks]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan Jawa Barat; Menanti]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://porosmedia.com/?p=43120</guid>

					<description><![CDATA[<p>Porosmedia.com, Bandung –  Visi besar Pemerintah Provinsi Jawa Barat di bawah kepemimpinan Gubernur Dedi Mulyadi...</p>
<p>Artikel <a href="https://porosmedia.com/paradoks-pendidikan-jawa-barat-menanti-kelas-menengah-baru-di-tengah-jeratan-nasib-guru-honorer/">Paradoks Pendidikan Jawa Barat; Menanti Kelas Menengah Baru di Tengah Jeratan Nasib Guru Honorer</a> pertama kali tampil pada <a href="https://porosmedia.com">Porosmedia.com</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p dir="ltr"><a href="http://Porosmedia.com/">Porosmedia.com,</a> Bandung –  Visi besar Pemerintah Provinsi Jawa Barat di bawah kepemimpinan Gubernur Dedi Mulyadi (KDM) dalam menciptakan &#8220;Kelas Menengah Baru&#8221; melalui sekolah industri unggulan patut diapresiasi sebagai langkah strategis pengentasan kemiskinan. Namun, di balik narasi optimis tersebut, wajah pendidikan Jawa Barat masih menyisakan ironi yang mendalam: dari nasib ribuan guru honorer yang terkatung-katung hingga potret kemiskinan ekstrem yang memaksa siswa putus sekolah.</p>
<p dir="ltr">​Rencana KDM memberikan akses beasiswa bagi siswa tidak mampu di sekolah industri unggulan adalah terobosan yang menjawab kebutuhan pasar kerja. Dengan target meningkatkan kuota dari 100 menjadi 800 penerima, Pemprov Jabar berupaya memutus rantai kemiskinan struktural. Namun, visi ini akan menjadi pincang jika fondasi paling mendasar dalam pendidikan—yakni kesejahteraan pengajar—belum tuntas.</p>
<p dir="ltr">​Data menunjukkan sebanyak 3.823 tenaga honorer guru dan administratif di Jawa Barat belum menerima gaji untuk periode Maret dan April 2026. Alasan klasiknya adalah benturan aturan teknis dari Kementerian PAN-RB terkait seleksi PPPK.</p>
<p dir="ltr">​Secara hukum, pemerintah daerah memang wajib patuh pada regulasi pusat guna menghindari penyimpangan keuangan. Namun, secara moral dan sosiologis, membiarkan ribuan pendidik tanpa upah selama dua bulan adalah kegagalan sistemik yang dapat mengganggu stabilitas kualitas pendidikan itu sendiri. Upaya KDM untuk menemui Menteri PAN-RB harus dipandang sebagai urgensi hukum—bukan sekadar formalitas birokrasi—agar hak-hak dasar pekerja honorer tetap terlindungi tanpa melanggar administrasi negara.</p>
<p dir="ltr">​<b>Potret Ihsan: Kegagalan Deteksi Dini Kemiskinan?</b></p>
<p dir="ltr">​Kisah Ihsan (15), siswa SMPN 1 Tanjungsari yang sempat berpamitan karena kendala ekonomi, menjadi tamparan bagi sistem pengawasan pendidikan di daerah. Meski respons cepat Wakil Gubernur Erwan Setiawan dalam menjamin kelangsungan sekolah Ihsan patut dipuji, kasus ini mencerminkan masih adanya &#8220;lubang&#8221; dalam distribusi bantuan pendidikan.</p>
<p dir="ltr">​Intervensi personal dari pimpinan daerah adalah solusi jangka pendek. Untuk jangka panjang, Jawa Barat membutuhkan sistem deteksi dini siswa rentan putus sekolah yang terintegrasi dengan data kemiskinan makro. Jangan sampai, kehadiran pemerintah hanya terasa saat sebuah kasus menjadi viral di media sosial.</p>
<p>Artikel <a href="https://porosmedia.com/paradoks-pendidikan-jawa-barat-menanti-kelas-menengah-baru-di-tengah-jeratan-nasib-guru-honorer/">Paradoks Pendidikan Jawa Barat; Menanti Kelas Menengah Baru di Tengah Jeratan Nasib Guru Honorer</a> pertama kali tampil pada <a href="https://porosmedia.com">Porosmedia.com</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Paradox Kota Bandoeng: Baoe Tahi &#038; Piagam Wisata 2025, Korupsinikus: Tjamboek oentoek Kemadjoean?</title>
		<link>https://porosmedia.com/paradox-kota-bandoeng-baoe-tahi-piagam-wisata-2025-korupsinikus-tjamboek-oentoek-kemadjoean/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Jajat Sudrajat]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 18 Jan 2026 02:14:32 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Poros Warga]]></category>
		<category><![CDATA[Ragam]]></category>
		<category><![CDATA[Baoe tahi]]></category>
		<category><![CDATA[Harri Safiari]]></category>
		<category><![CDATA[Kota Bandung]]></category>
		<category><![CDATA[Paradoks]]></category>
		<category><![CDATA[Piagam wisata 2025]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://porosmedia.com/?p=39916</guid>

					<description><![CDATA[<p>Esej Satire – Harri Safiari Porosmedia.com – Entah ini kehendak smesta, salah oeroes tata kota,...</p>
<p>Artikel <a href="https://porosmedia.com/paradox-kota-bandoeng-baoe-tahi-piagam-wisata-2025-korupsinikus-tjamboek-oentoek-kemadjoean/">Paradox Kota Bandoeng: Baoe Tahi &amp; Piagam Wisata 2025, Korupsinikus: Tjamboek oentoek Kemadjoean?</a> pertama kali tampil pada <a href="https://porosmedia.com">Porosmedia.com</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Esej Satire – Harri Safiari</p>
<p><a href="http://Porosmedia.com/">Porosmedia.com</a> – Entah ini kehendak smesta, salah oeroes tata kota, atawa sekadar akibat logisch dari kekoeasaan jang bablas dan sering loepa diri. Alkisah, pada awal taoen 2025 Kota Bandoeng kembali boektikan diri sebagai kota penoeh paradox. Paradox jang bukan sadja bisa dipikirkan, tapi djoega bisa dibaoei oleh manoesia jang terbilang misih normaa, bisa menghidoe!<br />
Di soeatoe pagi (14/1/2026) jang konon moengkin agak sial, mass media ramai-ramai bikin brita temoean onggokan tahi manoesia di sepoetar Gedoeng Balai Kota Bandoeng. Boekan tahi simbolik, bukan tahi metaforis— brani soempah ini tahi betoelan. Aromanja soenggoe menggoda. Apatah, ini tanda-tanda zaman? Itoe sepoetar tanja banjak warga Kota Bandoeng. .</p>
<p>Soeda barang tentoe, peristiwa ini bikin Wali Kota Bandoeng, Tuan Farhan, pening toedjoeh keliling. Sang Kepala Dinas Lingkoengan Hidup, Darto, poen turut poesing kepala. Boekan sadja sebab tahi itoe ada setjara fisik, melainkan ia teronggok di locatie jang salah &#8211; terlaloe dekat dengan kekoeasaan!</p>
<p>“Kena apa bisa ada tahi manoesia di sini?” demikian kira-kira tanya jang menggantoeng di oeboen-oeboen Korupsinikus. Pertanjaan ini terdengar loegoe, poen djanggal. Boekankah dari taoen ke taoen, problema sosial, kemiskinan, dan keterlantaran di kota ini telah lama ada, dan seakan dibiarkan berkeliaran. Ini ibarat sedjalan aroma got moesim hoedjan, bukan?” tanya Korupsinikus si machloek serba moeka dan moelti dimensi.</p>
<p>Kabar Wangi ….<br />
Ironie, seolah bersamaan waktoe dengan baoe jang merebak itoe, datanglah kabar wangi dari loear negeri. Agoda, agensi perdjalanan internasional, kasih gelar Bandoeng sebagai salah satoe dari lima destinasi wisata dengan pertoemboehan tertjepat di Asia sepandjang taoen 2025!<br />
Piagam prestasi ini otomatissch naik ke medja setjara terhormat, dan banjak jang kasih tabik. Samentara itoe entah kabetoelan tahi manoesia berserak di trotoar. Lengkap soeda wadjah kota Kembang Bandoeng &#8211; serba moeka!<br />
“Inilah paradox Bandoeng,” kata Korupsinikus, sambil menahan tawa djoega tjegoekan.</p>
<p>Ia adalah komentator abadi, machloek setengah legenda, jang konon pernah disangka Phitecantropus erectus, namun berhasil “mendjadi manusia” berkat Rubi dan sedikit keajaiban oportunisme jang terloenta-loenta.</p>
<p>“Roepanja, kota ini dipromosikan ke doenia sebagai soerga wisata, nahamoen gagal sediakan tempat boewang hadjat bagi warganja jang paling papa. Kalaoe ini boekan ironie, entah apa namanja,” tambah Korupsinikus, sembari mengipas-ngipas idoeng.</p>
<p>Fasiliteit Kota</p>
<p>Misih menoeroet Korupsinikus, tahi manoesia di dekat Balai Kota bukan sekadar ketjelakaan biologis semata, melainkan seboewah manifestasie politiek. “Itoe sematjem soerat terboeka dari rakyat jang tida kebagian toilet, tida kebagian perhatian, dan tida kebagian fasiliteit kota jang manoesiawi.”</p>
<p>Rubi, jang sedari tadi tampak gelisah menahan perutnja sendiri, ikut menimpali dengan nada setengah marah, setengah moeles.</p>
<p>“Toean Wali Kota dan para pembantunja haroes berhenti kaget seolah-olah tahi itoe makhloek asing. Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial itoe bukan hantoe. Merika hasil dari kebijakan jang tida pernah tjoekoep. Kalaoe WC sadja langka, djangan heran tahi berkeliaran. Tentoe kita tida maoe tahi, tapi lebih tida maoe lagi bertanggoeng djoawab, kan?” seroenja, sambil sesekali menekan pantat jang tiba-tiba brontak meminta djatah ke belakang.</p>
<p>Alhastil, demikianlah Bandoeng di awal taoen: kota jang diagoengkan dalam brosjoer, nahamoen dikoetoek oleh realita. Kota jang radjin koempoelken sadjomlah penghargaan, tapi termasoep sangat pelit menyediakan kebutuhan paling dasar manoesia.</p>
<p>“Semoga paradox ini mendjadi tjamboek oentoek kemadjoean,” kata Korupsinikus dengan senjoem pahit. “Atawa setidaknja tjamboek oentoek hidoeng para</p>
<p>pengoewasa, agar mahoe mentjioem kenjataan hidoep, sebelon terlaloe siboek menghirup wangi prestasi.”<br />
Sesoedahnja Rubi menganggoek, setelah toenaiken hadjatnja.</p>
<p>“Mudah-mudahan di taoen 2026, tida ada lagi orang Bandoeng atawa pendatang jang sembarangan boewang air besar. Bukan sebab rakyatnja tiba-tiba soetji, tapi sebab kotanja djoega haroes waras &#8211; sediakan WC sabelon dirikan baliho dimana-mana.”<br />
(Selesai)</p>
<p>Artikel <a href="https://porosmedia.com/paradox-kota-bandoeng-baoe-tahi-piagam-wisata-2025-korupsinikus-tjamboek-oentoek-kemadjoean/">Paradox Kota Bandoeng: Baoe Tahi &amp; Piagam Wisata 2025, Korupsinikus: Tjamboek oentoek Kemadjoean?</a> pertama kali tampil pada <a href="https://porosmedia.com">Porosmedia.com</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
