Budaya  

Wacana Kongres Aksara Sunda dan Kewajiban Menggunakan dalam Budaya Suku Bangsa

Avatar photo
Wacana Kongres Aksara Sunda dan Kewajiban Menggunakan dalam Budaya Suku Bangsa

Porosmedia.com, Kab. Bandung – Aksara Sunda sering digiring dalam diskusi budaya untuk ditanamkan dalam dunia pendidikan. Namun menurut Wina Erwina Phd, tidak ada kewajiban untuk menggunakannya Aksara Sunda atau hukuman dalam lingkungan jika tidak menggunakannya.

Selain itu, generasi sekarang menganggap Aksara Sunda sebagai hiasan semata, yang mereka lihat pada papan nama jalan. Akhirnya i untuk mempelajarinya kurang diminati, sehingga turun menjadi sebuah ajang hobby yang dilakukan segelintir orang.

Bahkan lanjut Wina Erwina dalam wawancara lewat telepon, Minggu malam (22/01/2023) dengan redaksi Porosmedia.com bahwa dalam budaya kehidupan sekarang terpikir hanya masalah mempertahankan hidup. Maka dari Itu, budaya atau budi dan daya, jika hal Aksara Sunda Bukan masalah dalam mempertahankan hidup akan mengabaikannya.

Bukan saja itu, bagi para penggiat yang Ingin melestarikan Aksara Sunda yang memang tidak ada terpaan, saran Wina, untuk memrogramkan jangka pendak, menengah dan panjang agar sedikit terealisasi wacana diskusinya.

Minimal Kata Wina, lembaga pendidikan membuat Aksara Sunda tertulis dalam dua atau tiga bahasa pada ijasah semua lulusan di jenjang pendidikan yang ada di Jawa Barat. Agar sedikit mempengaruhi di usia dini anak sekolah.

Baca juga:  Peringati 1 Muharram 1444 Hijriah, Warga Desa Kalilembu Gelar Pawai Obor

Sempat Ada dukungan dari Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil yang berharap stakeholder budaya untuk saling berdiskusi, memberi masukan dan inovasi baru agar ke depannya bisa sama-sama melestarikan budaya, bahasa dan aksara Sunda.

“Mari kita konsolidasi, saling memberikan masukan, mengkritisi, kalau dasar peraturan daerah sudah ada. Jika implementasi masih kurang, kami mohon dinasehati seperti apa.Ada atau tidak ada pengakuan internasional, semangat pelestarian budaya ini adalah kewajiban. Kita direkognisi oleh lembaga internasional, itu adalah sebuah kebanggaan. Tapi tidak menghalangi semangat kita, katakanlah masih belum berhasil, semangat melestarikan dimensi-dimensi kebudayaan adalah sebuah keharusan,” kata Emil. [net]