Terlilit Utang, Anak-anak Perlu Hindari Game Online

Terlilit Utang, Anak-anak Perlu Hindari Game Online
Terlilit Utang, Anak-anak Perlu Hindari Game Online. (Foto: Suara)

Porosmedia.com – Opini, Berita terkait anak dan remaja yang kecanduan game online kian marak. Misalnya salah satu anak remaja berumur 13 tahun di Tasikmalaya selatan (Tasela) yang terlilit utang hingga jutaan rupiah akibat kecanduan game online judi slot.

Anak tersebut terlilit utang yang besar akibat melakukan top up ke dalam game menggunakan uang pinjaman dari teman hingga saudaranya. Ia pun berani mencuri uang orang tuanya demi melakukan top up di game tersebut.

Orang tua anak tersebut akhirnya melaporkan anaknya ke Komisi Perlindungan Anak Indonesia Daerah (KPAID) Kabupaten Tasikmalaya. Saat ini si anak berada dalam pendampingan KPAID agar psikologisnya dapat terpulihkan kembali dan tidak terus-menerus kecanduan game online. Dilansir dari pikiran-rakyat.com, Selasa, 12/07/2022.

Berita lainnya datang dari seorang ibu bernama Sri (nama samaran) di Kabupaten Tuban, Jawa Timur. Melansir merdeka.com, Ahad, 17/07/2022, ibu tunggal ini terpaksa menanggung utang hingga puluhan juta rupiah lantaran anaknya kecanduan bermain aplikasi game chips domino. Ibu Sri kebingungan karena banyak rentenir yang menagih utang anaknya dengan nominal masing-masing mulai dari Rp 1 juta hingga Rp 10 juta.

Bahaya Game Online

Kasus-kasus lain yang mirip dengan berita di atas masih banyak. Bahkan tak sedikit anak dan remaja yang mendadak menjadi pencuri, pemerkosa, begal dan pembunuh akibat kecanduan game online. Saat ini, game online memiliki bahaya nyata bagi anak dan remaja baik di Indonesia maupun di luar negeri.

Baca juga:  Cara Membuat Cireng Isi Ayam Pedas

Saat bermain game, si anak yang telah kecanduan game tersebut kadang tidak peduli dengan keluarga dan sekitarnya lagi. Namun hanya mementingkan perasaan pribadi yang harus memenangkan game tanpa peduli apapun.

Hal ini menjadi berbahaya karena dalam teknologi online saat ini, hampir setiap game memiliki fasilitas top up atau terhubung secara langsung pada pulsa pengguna atau kartu kredit pengguna ponsel. Pemain bisa langsung memasukkan uang ke dalam game menggunakan kartu kredit atau internet banking. Sehingga, ketika si anak memiliki akses pada kartu kredit orang tua atau bahkan pada pinjaman online di internet, tidak aneh ketika orang tua tiba-tiba bisa memiliki utang yang banyak.

Secara psikologis pun, game online memiliki bahaya yang sangat besar bagi anak dan remaja. Menurut WHO (World Health Organization), ada tiga dampak yang sangat besar bagi anak dan remaja jika kecanduan game. Yakni menarik diri dari lingkungan, mudah kehilangan kendali, dan tidak peduli dengan kegiatan lain di sekitarnya.

Baca juga:  Gangguan Ginjal Akut Anak Diduga Disebabkan Oleh 3 Zat Kimia Berbahaya

Selain itu, melihat dari konten game yang populer saat ini, anak dan remaja pun akan mudah terpapar pornografi dari game yang mereka mainkan.

Kapitalisme Demokrasi Mendukung Suburnya Online Game

Sudah jelas bahwa dampak buruk yang menimpa anak-anak dan keluarga akibat bermain game online bisa bertahan hingga mereka dewasa. Bahkan bisa mempengaruhi sikap psikologis mereka dalam berinteraksi di lingkungan sekitar. Namun mengapa penguasa tidak mengambil tindakan khusus terkait hal ini? Misalnya melarang game-game semacam ini untuk beredar atau menutupnya sehingga tidak ada yang bisa bermain online game lagi?

Karena game online merupakan salah satu pendapatan negara yang cukup besar. Perputaran uang yang terjadi di lingkungan game online cukup fantastis. Pemain game bisa mendapatkan uang hanya dengan melakukan video streaming atau menekuni game-nya tersebut.

Banyak pula game yang menawarkan keuntungan hanya dengan ikutan bermain dan sekadar menonton video di dalamnya saja. Bahkan banyak sponsor dari perusahaan ternama yang memberikan hadiah milyaran kepada pemenang game tertentu, seperti Mobile Legends, League of Legends, dll.

Sistem kapitalisme demokrasi yang mendasari segala tindakan penguasa negara saat ini mendukung suburnya game online sebagai penghasil uang. Karena game-game ini mampu menjadi salah satu cabang ekonomi yang besar keuntungannya, maka kapitalis sekuler yang selalu berpusat pada kepentingan ekonomi akan mengesampingkan dampak buruk yang muncul akibat game online. Dampak buruk itu akan dianggap kecil dan tidak sebanding dengan keuntungan ekonomi yang besar.

Baca juga:  Mengenal Sandiah Ibu Kasur yang Tampil di Google Doodle Hari Ini

Sistem Islam Solusinya

Lantas bagaimanakah masyarakat seharusnya bersikap? Tentunya masyarakat harus kembali pada hukum-hukum agama Islam, yang mampu menilai game online dari sudut pandang syariat. Sebab, kelak segala sesuatu akan tetap mendapatkan hisab dari Allah Taala. Termasuk perkara game online. Kasus kecanduan anak dan remaja oleh game online merupakan kemaksiatan yang besar. Sebab telah termasuk permasalahan merusak generasi muda.

Generasi muda yang seharusnya cerdas dan berpikiran cemerlang, malah rusak akal dan akhlaknya akibat game yang tidak jelas. Tentunya hal ini akan diperhitungkan di hadapan Allah kelak. Karena itu, sudah saatnya masyarakat bangkit dan kembali pada syariat Islam, serta menanamkan nilai-nilai Islam kepada generasi muda. Sehingga generasi yang akan datang bisa menjadi generasi cemerlang, bukan generasi yang kecanduan game. Wallahu’alam bisshawwab.