Terkait Hadirnya TKA, BANDERANO TOLAKI: Kami Satu Komando Dengan DPP LAT

0
627
Hedianto Ismail, Komandan BANDERANO TOLAKI

POROSMEDIA.COM – KENDARI : Lima hari yang lalu Lembaga Adat Tolaki (LAT) Sulawesi Tenggara bersama sembilan OKP Tolaki yang tergabung dalam Konsorsium Tolaki Mepokoaso menandatangai MoU bersama Pihak Perusahaan VDNI dan OSS di Rumah Makan Surya yang dimana isi MoU itu memuat 8 point perjanjian.

Penandatangan MoU tersebut pun mendapat berbagai tanggapan dari kelompok masyarakat antara lain AMPH SULTRA dan Koalisi Masyarakat Sultra Bersatu.

Menanggapi Kritikan tersebut, Komandan Banderano Tolaki, Hedianto Ismail mengatakan bahwa LAT SULTRA sebagai Lembaga tertinggi milik Suku Tolaki hadir sebagai penyambung aspirasi masyarakat Tolaki kepada pihak Perusahaan dan hal tersebut merupakan langkah yang tepat. Minggu, (5/7/2020).

“sebagaimana yang kita ketahui bahwa dua Perusahaan ini VDNI dan OSS berdiri diatas tanah leluhur Suku Tolaki tepatnya Kabupaten Konawe (Pusat dari Wilayah Eks Kerajaan Konawe) yang mana mayoritas masyarakatnya bersuku Tolaki, jadi wajar saja LAT hadir untuk mengakomodir keinginan masyarakat Tolaki”. Ungkapnya

Pria yang biasa disapa Bang Hedy ini menambahkan bahwa perlu dibutuhkan pendekatan kultural dalam membangun komunikasi dengan masyarakat konawe (khususnya Orang Tolaki) sebagai bentuk rasa hormat perusahaan dalam menanamkan investasinya dengan membangun Pabrik Smelter di tanah tolaki dan hal itu sangat perlu.

Bawaa Pombende Sarano Tolaki (BANDERANO TOLAKI)

Menurut Bang Hedy, apa yang dilakukan oleh DPP LAT sesuai dengan norma adat istiadat suku Tolaki sekaligus meminimalisir terjadinya konflik.

“sudah cocok LAT Sultra hadir untuk mengakomodir keinginan masyarakat Tolaki kepada Perusahaan”. Ujarnya.

Bukan hanya di Sultra, kata Hedy, beberapa Perusahaan di Indonesia pun juga ketika melakukan investasi dan pembangunan pabrik selalu melakukan pendekatan dan komunikasi secara kultural dengan masyarakat setempat.

“contohnya saja kita lihat di wilayah Masyarakat Adat Dayak dan Masyarakat Adat Papua, maka di konawe implementasi dari komunikasi ke masyarakat lokal adalah LAT yang merupakan representasi Masyarakat Tolaki”. Tegas Hedy

Persoalan kritikan yang beredar, Bagi Hedy itu merupakan hal biasa dan tidak perlu ditanggapi.

“adapun kritikan dari pihak luar kita anggap saja itu rumput yang sedang bergoyang”. tutupnya.

Laporan: Jeff

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here