<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Selat Hormus - Porosmedia.com</title>
	<atom:link href="https://porosmedia.com/tag/selat-hormus/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://porosmedia.com/tag/selat-hormus/</link>
	<description>Sumber Informasi Independen, Aktual dan Terpercaya</description>
	<lastBuildDate>Tue, 28 Apr 2026 15:51:27 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.9.4</generator>

<image>
	<url>https://porosmedia.com/wp-content/uploads/2021/12/cropped-favicon-porosmedia.com_-1-32x32.png</url>
	<title>Selat Hormus - Porosmedia.com</title>
	<link>https://porosmedia.com/tag/selat-hormus/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Harga Minyak Goreng, Gula &#038; Beras Naik, Korupsinikus: Selat Hormuz Sunyi, Dapur Ribut</title>
		<link>https://porosmedia.com/harga-minyak-goreng-gula-beras-naik-korupsinikus-selat-hormuz-sunyi-dapur-ribut/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Jajat Sudrajat]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 28 Apr 2026 15:51:27 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Harri Safiari]]></category>
		<category><![CDATA[Korupsinikus]]></category>
		<category><![CDATA[Minyak Goreng]]></category>
		<category><![CDATA[Selat Hormus]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://porosmedia.com/?p=43278</guid>

					<description><![CDATA[<p>Esai Dark Satire Kontemplatif : Harri Safiari  Porosmedia.com – ‎Tarik napas perlahan. Bila perlu sambil...</p>
<p>Artikel <a href="https://porosmedia.com/harga-minyak-goreng-gula-beras-naik-korupsinikus-selat-hormuz-sunyi-dapur-ribut/">Harga Minyak Goreng, Gula &amp; Beras Naik, Korupsinikus: Selat Hormuz Sunyi, Dapur Ribut</a> pertama kali tampil pada <a href="https://porosmedia.com">Porosmedia.com</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p dir="ltr"><span style="font-size: 16px">Esai Dark Satire Kontemplatif : Harri Safiari </span></p>
<p dir="ltr">
<span style="font-size: 16px"><a href="http://Porosmedia.com/">Porosmedia.com</a> – ‎Tarik napas perlahan. Bila perlu sambil memeriksa isi dapur: minyak goreng masih ada atau tinggal bayangan? Gula masih tersisa atau tinggal semut yang mengenang? Beras masih cukup atau mulai dihitung per butir?</span></p>
<p dir="ltr"><span style="font-size: 16px">Sebab penghujung April 2026 datang bukan hanya membawa pergantian kalender, tetapi juga kecemasan lama: harga kebutuhan pokok yang kembali bergerak naik dengan langkah kecil, licin, dan sering terlambat disadari.</span></p>
<p dir="ltr"><span style="font-size: 16px">‎Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat 224 kabupaten/kota mengalami kenaikan Indeks Perkembangan Harga (IPH) minyak goreng pada pekan keempat April 2026. Secara nasional, rata-rata harga minyak goreng naik 1,50 persen, dari Rp19.358 menjadi Rp19.648 per liter.</span></p>
<p dir="ltr"><span style="font-size: 16px">‎Kecil di angka. Besar di penggorengan.</span><br />
<span style="font-size: 16px">‎Korupsinikus, pemikir jalanan yang paham filsafat gorengan hangat, langsung berkomentar:</span><br />
<span style="font-size: 16px">‎“Kalau minyak goreng merangkak, biasanya gula ikut menoleh, beras mulai berdeham, lalu dompet rakyat mendadak sesak napas.”</span><br />
<span style="font-size: 16px">‎Namun kali ini pembicaraan tak berhenti di pasar. Ia melompat ke peta dunia.</span></p>
<p dir="ltr"><span style="font-size: 16px">‎Koresponden khusus BBC, Orla Guerin, baru-baru ini turun menggunakan perahu kecil menyusuri Selat Hormuz, wilayah sempit namun menentukan nasib banyak negara. Dari sana dilaporkan, jalur tanker yang biasanya menjadi nadi perdagangan energi dunia tampak jauh lebih sepi.</span></p>
<p dir="ltr"><span style="font-size: 16px">‎Padahal, sedikitnya 130-an kapal tanker biasa lalu-lalang setiap hari di kawasan itu. Selat sempit tersebut menopang sekitar 20 persen perdagangan minyak dunia. Bila jalur ini tersumbat, dunia bukan hanya tegang—dunia berkeringat dingin.</span></p>
<p dir="ltr"><span style="font-size: 16px">‎Rubi, sobat dalit Korupsinikus yang setengah serius setengah cicilan, menimpali:</span><br />
<span style="font-size: 16px">‎“Lihat tuh. Laut jauh sana sepi, tapi dapur sini bisa gaduh.”</span><br />
<span style="font-size: 16px">‎Memang begitulah dunia modern bekerja. Kapal berhenti di satu titik, harga meloncat di titik lain. Rudal dibahas di televisi, ibu-ibu mengencangkan pengeluaran di rumah. </span></p>
<p dir="ltr"><span style="font-size: 16px">Satu selat terganggu, satu negeri mulai menghitung ulang belanja bulanan.</span><br />
<span style="font-size: 16px">‎Selama beberapa minggu terakhir hingga akhir April 2026, dunia dibuat deg-degan: apakah gencatan senjata ini akan menjelma perdamaian panjang, atau cuma jeda untuk mengisi ulang masalah?</span></p>
<p dir="ltr"><span style="font-size: 16px">‎Jika damai bertahan, mungkin kapal tanker kembali ramai, pasar lebih tenang, dan harga komoditas sedikit bernapas lega.</span><br />
<span style="font-size: 16px">‎Tetapi jika sebaliknya…</span><br />
<span style="font-size: 16px">‎Korupsinikus menatap bala-bala haneut di atas piring dengan mata berkabut.</span></p>
<p dir="ltr"><span style="font-size: 16px">‎“Kalau konflik kembali meledak, entah harga bala-bala akan bagaimana. Bisa naik, bisa mengecil, bisa tinggal kenangan.”</span><br />
<span style="font-size: 16px">‎Rubi menambahkan dengan nada ilmiah palsu: </span><span style="font-size: 16px">‎“Bukan cuma harga. Kualitas juga. Hari ini isi kolnya padat, besok tinggal aroma.”</span></p>
<p dir="ltr"><span style="font-size: 16px">‎Di situlah letak tragedi kecil sebuah bangsa: perang di tempat jauh, tapi dampaknya datang ke meja makan. Selat Hormuz yang sunyi bisa membuat warung ramai keluhan. Tanker yang tak lewat bisa membuat minyak goreng lewat batas nalar.</span></p>
<p dir="ltr"><span style="font-size: 16px">Karena itu, ketahanan pangan bukan slogan rapat ber-AC. Ia adalah pagar terakhir agar rakyat tak panik hanya karena rak dapur mulai kosong.</span><br />
<span style="font-size: 16px">‎Minyak goreng, gula, beras—semuanya kini harus diamati dari detik ke detik. Sebab denyut dunia sudah saling kait-mengkait. Ombak di Timur Tengah bisa menjadi gelombang tagihan di Asia Tenggara.</span></p>
<p dir="ltr"><span style="font-size: 16px">Korupsinikus pun menutup percakapan sambil menggigit bala-bala yang masih hangat:</span><br />
‎“Kadang ancaman terbesar bukan suara ledakan. Tapi suara pedagang bilang: naik lagi, Pak.”<br />
‎Duh…<br />
‎(Selesai)</p>
<p>Artikel <a href="https://porosmedia.com/harga-minyak-goreng-gula-beras-naik-korupsinikus-selat-hormuz-sunyi-dapur-ribut/">Harga Minyak Goreng, Gula &amp; Beras Naik, Korupsinikus: Selat Hormuz Sunyi, Dapur Ribut</a> pertama kali tampil pada <a href="https://porosmedia.com">Porosmedia.com</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
