Sekolah Membiasakan Hijab, Dianggap Perundungan?

Sekolah Membiasakan Hijab, Dianggap Perundungan?
Ilustrasi via Republika.co.id

Porosmedia.comMasalah hijab kembali dipersoalkan. Kali ini terjadi di SMAN Banguntapang-Yogyakarta. Narasi dan opini terus dikembangkan serta menyudutkan.

Tak ayal media ramai memberitakan bahwa adanya pemaksaan hijab oleh pihak sekolah terhadap seorang siswi kelas 10 di SMAN 1 Banguntapan. Siswi ini mengaku dipaksa berhijab oleh guru BK di sekolah tersebut. Akibat pemaksaan itu, siswi tersebut depresi dan sampai saat ini mengurung diri.

Yuliani selaku pendamping siswi tersebut mengatakan pemaksaan itu dilakukan saat Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS). Awalnya saat MPLS, siswi tersebut baik-baik saja dan mulai tertekan saat dipanggil guru BK.

Ternyata kasus ini telah sampai ke Ombudsman RI perwakilan DIY. Sampai-sampai Kepala ORI DIY Budhi Masturi akan menelusuri dugaan perundungan dalam peristiwa tersebut. Dia menilai pemaksaan penggunaan jilbab di sekolah negeri yang bukan berbasis agama bisa masuk kategori perundungan.

Padahal, dari hasil klarifikasi Disdikpora DIY, menyatakan bahwa tidak ada pemaksaan terhadap siswi untuk memakai hijab. Hal itu dinyatakan usai klarifikasi ke SMAN 1 Banguntapang di kantor Disdikpora DIY pada hari Senin, 8 agustus 2022.

Dari sini kita bisa melihat, bahwa kasus ’paksa jilbab’ kenapa begitu cepat viral sehingga dianggap bukan kasus biasa, ini mengindikasikan bahwa Islamophobia itu nyata. Para pegiat islamophobia begitu gesitnya menggoreng kasus ini sehingga terblow-up diberbagai media lalu ujung-ujungnya menyudutkan islam.

Baca juga:  Markotop dan Kemetak: Santri Masuk Neraka

Tetapi disisi lain, ketika ada siswi tepatnya SD di Gunungsitoli Sumut yang menangis karena pihak sekolah melarang memakai hijab justru pegiat islamophobia diam seribu bahasa, tak memviralkan sebagaimana kasus yang paksa jilbab. Seakan akan tidak ada keadilan disana.

Adalah risiko dan ancaman nyata dari pemberlakuan sistem sekuler ketika agama dipisahkan dari kehidupan. Generasi muslim merasa dipaksa dan terancam hak-nya saat pihak sekolah melatih menggunakan busana muslimah. Dan sebaliknya, ada generasi muslim yang ingin melaksanakan kewajibannya menutup aurat malah dilarang pihak sekolah.

Bukankah fungsi Pendidikan adalah melatih melakukan kebaikan dan bagi muslim/ah kebaikan adalah ketaatan pada syariat. Tentu perintah Allah SWT terhadap para wanita untuk berbusana muslimah (memakai jilbab dan kerudung) pasti mengandung banyak kebaikan, banyak mengandung manfaat sekaligus menghindari banyak keburukan ataupun mudarat bagi yang memakainya maupun bagi masyarakat pada umumnya.

Penggunaan hijab dalam rangka menutupi aurat adalah sebuah tuntutan syariat dari Allah dan RasulNya bagi seorang wanita muslimah apalagi bagi yang sudah aqil baligh. Terlebih dalam memasuki kehidupan umum, muslimah wajib berjilbab dan berkerudung. Patut kita ketahui bersama bahwa jilbab dan kerudung itu berbeda.

Dalil kewajiban memakai kerudung didasarkan pada firman Allah dalam surat An Nur ayat 31 yang berbunyi:

Baca juga:  Markotop dan Kemetak: Anak Nakal Dipondokkan di Pesantren

وَقُلْ لِّلْمُؤْمِنٰتِ يَغْضُضْنَ مِنْ اَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوْجَهُنَّ وَلَا يُبْدِيْنَ زِيْنَتَهُنَّ اِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلٰى جُيُوْبِهِنَّۖ وَلَا يُبْدِيْنَ زِيْنَتَهُنَّ اِلَّا لِبُعُوْلَتِهِنَّ اَوْ اٰبَاۤىِٕهِنَّ اَوْ اٰبَاۤءِ بُعُوْلَتِهِنَّ اَوْ اَبْنَاۤىِٕهِنَّ اَوْ اَبْنَاۤءِ بُعُوْلَتِهِنَّ اَوْ اِخْوَانِهِنَّ اَوْ بَنِيْٓ اِخْوَانِهِنَّ اَوْ بَنِيْٓ اَخَوٰتِهِنَّ اَوْ نِسَاۤىِٕهِنَّ اَوْ مَا مَلَكَتْ اَيْمَانُهُنَّ اَوِ التَّابِعِيْنَ غَيْرِ اُولِى الْاِرْبَةِ مِنَ الرِّجَالِ اَوِ الطِّفْلِ الَّذِيْنَ لَمْ يَظْهَرُوْا عَلٰى عَوْرٰتِ النِّسَاۤءِ ۖوَلَا يَضْرِبْنَ بِاَرْجُلِهِنَّ لِيُعْلَمَ مَا يُخْفِيْنَ مِنْ زِيْنَتِهِنَّۗ وَتُوْبُوْٓا اِلَى اللّٰهِ جَمِيْعًا اَيُّهَ الْمُؤْمِنُوْنَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ

Dan katakanlah kepada para perempuan yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali yang (biasa) terlihat. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara perempuan mereka, atau para perempuan (sesama Islam) mereka, atau hamba sahaya yang mereka miliki, atau para pelayan laki-laki (tua) yang tidak mempunyai keinginan (terhadap perempuan) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat perempuan. Dan janganlah mereka menghentakkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertobatlah kamu semua kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, agar kamu beruntung.”

Baca juga:  Toleransi Beragama Dalam Islam

Adapun dalil yang mewajibkan berjilbab ada pada surat Al Ahzab ayat 59

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ ۚ ذَٰلِكَ أَدْنَىٰ أَنْ يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ ۗ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا

Artinya: “Wahai Nabi! Katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin, “Hendaklah mereka menutupkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.” Yang demikian itu agar mereka lebih mudah untuk dikenali, sehingga mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.”

Dari ayat-ayat tersebut sudah jelas bahwa siapapun yang mengaku muslim, konsekuensi dari keimanannya itu adalah terikat terhadap syariat. Maka sebagai seorang muslim seharusnya tidak ada perasaan dipaksa/perundungan atau mempersoalkan tentang kewajiban menutup aurat manakala pihak sekolah ingin menanamkan siswanya agar taat pada perintah Allah.

Memang seharusnya begitu dari tujuan pendidikan yaitu selain penguasaan ilmu kehidupan seperti matematika, sains, teknologi dan rekayasa bagi peserta didik, terpenting adalah untuk membangun kepribadian Islam serta hasil belajar (output) pendidikan Islam akan menghasilkan pesarta didik yang kokoh keimanannya dan mendalam pemikiran Islamnya (tafaqquh fiddin).

Pengaruhnya (outcome) adalah keterikatan peserta didik terhadap hukum Allah SWT (bertakwa). Dampaknya (impact) adalah tegaknya amar makruf nahi mungkar di tengah masyarakat.