Non-Biner, Wujud Krisis Identitas

Non-Biner, Wujud Krisis Identitas
Non-Biner, Wujud Krisis Identitas. (Ilustrasi: via Detik)

Porosmedia.com, Opini – Seorang mahasiswa baru Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar berinisial MNA mendapat pengusiran dari ruangan saat mengikuti acara Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB). Pengusiran itu terjadi setelah ia mengaku bergender non-biner saat mendapat pertanyaan dari dua dosen di depan ruangan. Peristiwa itu terekam dalam sebuah video yang viral di media sosial.

Peristiwa bermula ketika MNA mengatakan dirinya berjenis kelamin laki-laki, tetapi ia tidak mengidentifikasi dirinya dalam kelompok gender laki-laki atau perempuan. Ketika MNA mengaku bahwa dirinya bergender netral, tidak memilih laki-laki maupun perempuan kepada Dosen Unhas, Dosen itu kemudian memanggil panitia dan meminta agar MNA membawa tasnya dari ruangan.

Dalam keterangannya, Sabtu (20/8), Rektor Unhas Prof. Jamaluddin Jompa mengatakan bahwa fakultas telah menyelesaikan peristiwa itu. Pihak fakultas mengaku telah memanggil orang tua MNA untuk melakukan mediasi. Setelah kejadian itu, Jamaluddin menegaskan Unhas merupakan lembaga pendidikan tinggi yang inklusif. Ia mengatakan Unhas terbuka bagi semua orang. Dilansir dari CNNIndonesia.com, Ahad, 21 Agustus 2022).

Baca juga:  Miris, Emak-emak Cari Sisa Minyak Goreng Curah di Pasar, Publik Langsung Ngelus Dada: Ya Allah

Non-Biner, Salah Satu Penyimpangan LGBTQ+

Istilah non-biner mungkin masih terdengar asing di telinga masyarakat pada umumnya. Sebab penyimpangan ini memang jarang terjadi di masyarakat. Jika membandingkannya dengan penyimpangan sejenis seperti l3sbi4n atau g4y atau bahkan transgender, non-biner lebih tidak mencolok. Penyimpangan ini termasuk ke dalam bagian queer+ dalam LQBTQ+ yang enggan dan menolak mengakui dirinya sebagai bagian dari gender laki-laki atau perempuan.

Masih banyak penyimpangan sejenis yang masyarakat umum tidak banyak mengetahuinya, misalnya fluidgender atau omnigender yang bisa berubah dari satu gender ke gender lainnya atau memiliki banyak gender. Negara Thailand bahkan telah mengakui ada lebih dari 18 jenis gender yang berbeda. Inilah wujud krisis identitas yang nyata di dunia saat ini.

Sekularisme Menyuburkan Berbagai Penyimpangan dan Krisis Identitas

Krisis identitas seperti kasus non-biner di Unhas yang viral di masyarakat baru-baru ini, bukanlah kasus pertama. Kasus permasalahan dan penyimpangan gender semacam ini sudah sering terjadi baik di negeri ini maupun di seluruh dunia.

Baca juga:  9 Tips Persiapan Puasa Bagi Penderita Asam Lambung

Pertanyaannya, mengapa pelaku penyimpangan LGBTQ+ semakin berani menunjukkan dirinya kepada masyarakat? Bahkan terang-terangan memperlihatkan penyimpangannya tersebut di hadapan umum, di kampus yang merupakan fasilitas pendidikan publik, juga di hadapan dosen?

Tentunya publik masih ingat dengan sepasang lelaki g4y yang mendapat undangan di podcast salah satu influencer terkenal Indonesia, Deddy Corbuzier. Peristiwa itu belum lama berlalu.

Selanjutnya ada pula seorang transpuan terkenal, Lucinta Luna, yang menggelar acara syukuran demi mensyukuri hasil operasi plastik yang berhasil mengubah wajah dan tubuh pemberian Sang Pencipta. Kemudian memamerkan wajah dan tubuh hasil operasinya tersebut di Instagram dan TikTok.