Muharram: Momen Hijrah untuk Perubahan Politik

Muharram Momen Hijrah untuk Perubahan Politik
Muharram Momen Hijrah untuk Perubahan Politik. (Foto: via Media Indonesia)

Porosmedia.comWaktu tak terasa begitu cepat. Detik demi detik, menit demi menit, jam demi jam, hari demi hari, sepekan demi sepekan, dan bulan demi bulan pun telah terlewati.

Tahun pun tak terasa akan segera berganti dalam beberapa hari lagi. Tanggal satu Muharram yang biasanya diperingati oleh kaum muslimin sebagai tahun baru Islam nyatanya sudah menanti.

Berbicara tentang satu muharram, tanggal ini mengingatkan pada momen peristiwa hijrah Rasulullah dan para sahabat dari Mekah ke Madinah dalam rangka menyelamatkan diri dan kaumnya dari ancaman Quraisy. Hijrahnya beliau tentu atas perintah Allah.

Allah yang Maha mengetahui segalanya mengenai apa yang akan terjadi pada Rasulullah. Maka Allah mengutus Jibril untuk menyampaikan wahyu kepada beliau, seraya mengabarkan persekongkolan Quraisy yang akan menghabisi Rasulullah dan bahwa Allah sudah mengizinkan beliau untuk pergi serta menetapkan waktu hijrah.

Al Bukhari meriwayatkan dari Aisyah Ra, dia berkata: “Rasulullah bersabda kepada orang-orang muslim, ‘sesungguhnya telah diperlihatkan kepadaku tempat tujuan hijrah kalian, yang memiliki korma yang terletak di antara dua dataran yang subur’.”

Baca juga:  Rebutan Pacar Berujung Penusukan

Pengertian hijrah secara khusus berkaitan dengan migrasi umat. Bagi kaum muslim, memaknai hijrah bukan sekadar ungkapan kegembiraan dimulainya Tahun Baru Islam semata. Akan tetapi, peristiwa hijrah merupakan sejarah baru dimulainya kehidupan kaum muslim.

Hijrahnya Rasul dan para sahabat adalah cikal bakal berdirinya negara Islam dan peradabannya. Setelah terjadinya peristiwa baiat Aqabah yang kedua, dan Islam berhasil memancangkan tonggak negara di tengah Padang pasir yang bergelombang kekufuran dan kejahilan.

Dan hal itu merupakan buah yang paling besar yang diperoleh Islam semenjak dakwah dimulai, maka Rasulullah dan para pengikutnya diperkenankan untuk hijrah ke Madinah.

Hijrah yang dilakukan beliau bukan sekedar mengabaikan kepentingan. Bukan sekedar mengorbankan harta benda, dan bukan sekedar menyelamatkan diri semata karena hak-hak mereka banyak yang kaum kafir rampas. Akan tetapi, bisa saja mereka akan mengalami kebinasaan pada permulaan hijrah itu atau pada akhirnya.

Hijrahnya kaum muslimin menggambarkan sebuah perjalanan ke masa depan yang serba mengambang, tidak diketahui duka lara apa yang akan menyusul di kemudian hari. Namun semua ini adalah perintah Allah.

Baca juga:  Markotop dan Kemetak: Gusti Allahe Dhuwit, Nabine Jarit

Walaupun dalam perjalanannya banyak kaum musyrikin berusaha untuk menghalangi agar orang-orang muslim tidak bisa keluar dari Mekah. Akan tetapi Allah memberikan gambar gembira bagi mereka yang berhijrah karena Allah walaupun kematian datang menghampiri sebelum tiba ke tempat hijrah.

Hal itu sebagaimana firman Allah:

وَمَنْ يُّهَاجِرْ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ يَجِدْ فِى الْاَرْضِ مُرَاغَمًا كَثِيْرًا وَّسَعَةًۗ وَمَنْ يَّخْرُجْ مِنْۢ بَيْتِهٖ مُهَاجِرًا اِلَى اللّٰهِ وَرَسُوْلِهٖ ثُمَّ يُدْرِكْهُ الْمَوْتُ فَقَدْ وَقَعَ اَجْرُهٗ عَلَى اللّٰهِۗ وَكَانَ اللّٰهُ غَفُوْرًا رَّحِيْمًا

“Barang siapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezeki yang banyak. Barang siapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dituju), maka sungguh telah tetap pahalanya di sisi Allah. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang,” (Q.S An-Nisa’ [4] : 100).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *