Markotop dan Kemetak: Gusti Allahe Dhuwit, Nabine Jarit

Markotop dan Kemetak Gusti Allahe Dhuwit, Nabine Jarit
Foto: Shutterstock

Porosmedia.com – Banyak sekali pepatah Jawa atau sanepa (sanepo) yang harus kita maknai untuk bisa kita pahami secara keseluruhan. Dalam hal apapun sesuai dengan kondisi yang akan kita pelajari.

Jangan sampai pepatah itu dimakan mentah-mentah sebelum dicerna lebih dulu, apa maksud dan tujuan pepatah itu.

Sebagai contoh ada pepatah Jawa “Gusti Allahe Dhuwit, Nabine Jarit.” Pepatah ini kalau secara harfiah berarti Gusti Allahnya uang, nabinya kain.

Pepatah ini sebenarnya ingin menggambarkan orang yang hidupnya hanya memburu uang atau harta benda, kemewahan, dan kenikmatan duniawi. Sehingga, apa yang ada di dalam otak dan hatinya hanyalah bagaimana mendapatkan uang, kemewahan, dan kenikmatan hidup itu.

Bahkan untuk mendapatkan itu semua, ia rela melakukan apa saja. Dia tidak memperdulikan baik itu etika, moral, kebajikan, maupun yang lainnya. Tidak ada halangan apa pun sejauh itu semua ditujukan untuk mendapatkan uang, kemewahan, dan kenikmatan.

Artinya, uang, kemewahan, dan kenikmatan adalah segala-galanya baginya.

Di Dunia Ini Kita Butuh Uang untuk Kelangsungan Hidup, Tapi Jangan Sampai Membutakan Mata dan Hati

Kadang orang juga tidak sadar bahwa seluruh gaya hidup yang ada pada dirinya hanya ditujukan untuk tujuan duniawiah saja. Hal tersebut bisa dikarenakan jabatan atau kekuasaan yang berakibat lupa daratan.

Baca juga:  Markotop dan Kemetak: Dunia Berlari Bila Kau Kejar

Maka dari itu dibutuhkan iman yang benar-benar kuat. Dia tidak menyadari bahwa semua akan di tinggalkan dan akhiratlah tempat yang akan kita huni dan kekal.

Memang di dunia ini kita butuh yang namanya uang sebagai alat untuk kelangsungan hidup. Tetapi jangan sampai membutakan mata hati kita.

Banyak contohnya tentang pepatah itu. Misalkan orang mencari jalan pintas dengan cara “pesugihan” atau menjadi seorang koruptor yang mencuri aset negara. Pemimpin yang haus akan kekuasaan, kekayaan, dan lain-lainnya.

Carilah Akhiratmu Seakan Mati Besok

Mereka berfikir yang diotaknya hanyalah uang, uang dan uang. Makanya di sebut dalam pepatah itu Gusti Allahe Dhuwit.

Kemetak bertanya kepada Markotop mengenai pepatah Jawa tersebut.

“Mar, bukannya ada pepatah juga carilah duniamu seakan-akan kita akan hidup selamanya? Berarti kan tidak salah, kalau kita mencari uang sebanyak-banyaknya?”

Dengan sewotnya Markotop menjawab, “Iya memang benar itu tidak salah, Tak. Tetapi yang salah itu kamu?”

“Lho kok aku?“ tanya Kemetak kaget.

Lalu Markotop menjelaskan, “Kenapa pepatah itu tidak dilanjutkan dengan “carilah akhiratmu seakan-akan kita akan mati besok, Tak.”

Baca juga:  Law Of Attraction: Sebuah Magnet Pikiran

“Hahaha. Markotop marah nih ye,“ Kemetak meledeknya sambil lari.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *