Markotop dan Kemetak: Durhaka Kepada Anak

Markotop dan Kemetak: Durhaka Kepada Anak
Markotop dan Kemetak: Durhaka Kepada Anak. (Ilustrasi: Istimewa)

Porosmedia.com, Durhaka Kepada Anak – Kemetak berlari-lari menuju siskamling untuk mencari teman kecilnya, si Markotop. Pucuk dicinta ulam pun tiba, ternyata Markotop sudah berada di siskamling.

Setelah bertemu dengannya, Kemetak mengadu kepada Markotop mengenai anaknya yang menginjak remaja itu. Mengenai anaknya yang dulu penurut, sekarang menjadi pembangkang dan durhaka kepada dirinya.

“Mar, saya pusing nih? Anak saya yang kedua, Si Dolim sekarang di nasehati tidak nurut, dan selalu membantah. Apakah yang harus saya lakukan biar si Dolim jera? Apakah dikasih pelajaran biar kapok Mar?”

Dengan bijaksananya Si Markotop menjawab kepada Kemetak, “Tak, dulu ada cerita tentang orang tua yang mengadukan anaknya kepada Umar bin Khatab tentang kedurhakaan anaknya. Lalu dipanggillah anak orang tua tersebut untuk menghadap kepada baginda Umar.”

Anak mempunyai hak atas orang tuanya

“Setelah itu diinterogasi anak tersebut kenapa dia berani dan durhaka kepada orang tuanya? Anak tersebut lalu bertanya kepada Umar, “Wahai Baginda bukankah anak mempunyai hak atas orang tuanya?”

Baca juga:  Gangguan Ginjal Akut Anak Diduga Disebabkan Oleh 3 Zat Kimia Berbahaya

Umar pun menjawab, “Iya Benar.”

“Apa hak anak terhadap orang tuanya?” tanya anak tersebut.

Lalu Umar menjelaskan bahwa anak berhak atas orang tuanya antara lain, memilihkan calon ibu yang baik, memberikan nama yang baik dan mengajarinya Al-Qur’an.

Anak itu berkata, “Dari tiga yang Baginda sebutkan itu tidak satupun Ayahku melakukannya. Ibuku wanita berkulit hitam bekas budak dan beragama Majusi, Ia menamakanku Ju’lan (tikus atau curut), dan ia tidak mengajariku satu huruf pun dari Al-Qur’an.

Lalu Umar segera memandang orang tua anak tersebut dan berkata, “Engkau datang mengadukan kedurhakaan anakmu, padahal engkau sendiri telah durhaka kepadanya sebelum ia mendurhakaimu.

Engkau telah berbuat buruk kepadanya sebelum ia berbuat buruk kepadamu. Itulah contoh kecil dari kedurhakaan orang tua terhadap anaknya.

Dulu Ibnu Qoyyim juga berkata, “Bila terlihat kerusakan pada diri anak-anak, mayoritas penyebabnya adalah bersumber pada orang tuanya.” Maka dari itu pendidikan agama dan budi pekerti harus kita tanamkan pada anak kita sedini mungkin.

Baca juga:  Ancam Sebar Foto dan Video Bugil Korban, Paman Cabuli Ponakan di Bandung Bertahun-tahun

Karena akan bisa menjadi tameng kita agar kelak tidak durhaka kepada orang tuanya, bahkan dapat melindungi dari kejahatan orang lain.

Inti dari ini semua, kalau anak durhaka kepada orang tua itu tidak sepenuhnya kesalahan anak, bisa juga dalam mendidik dan tingkah laku orang tuanya kurang baik.

Orang tua itu sebenarnya harus bisa memberikan contoh yang baik kepada anak-anaknya. Orang tua yang otoriter, berkata kasar, dan menang sendiri bisa menjadikan pengaruh buruk terhadap anaknya.

Mungkin karena mereka merasa bahwa dia yang melahirkan dan membesarkan bisa berbuat semaunya sendiri.

“Pertanyaan saya apakah kamu seperti itu, Tak? Hehehe.”

Kemetak pun tertunduk lesu, pertanda sia-sia dia telah curhat kepada Markotop, yang ternyata senjata makan tuan.
Hehehe.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *