Kurikulum Anti Radikalisme, Bisakah Menjadi Solusi Masalah Pendidikan?

Kurikulum Anti Radikalisme, Bisakah Menjadi Solusi Masalah Pendidikan
Serka Akri Dani Anggota Kodim 0619/Purwakarta dalam agenda pembekalan wawasan kebangsaan kepada Pelajar SMKN 1 Bojong Purwakarta. Foto: Pen0619

Porosmedia.comMemberikan wawasan kepada anak-anak sekolah memang menjadi keharusan bahkan utama bagi seorang pemimpin dalam membekali para generasi agar memiliki wawasan yang mumpuni.

Terlebih memberikan wawasan tentang agama yang bukan hanya sekedar wawasan tetapi bisa menerapkan wawasan yang didapatnya itu dalam kehidupannya.

Namun sangat di sayangkan manakala pemberian wawasan kepada para generasi justru terselip istilah yang bisa menjauhkan generasi dari nilai-nilai islam yang sebenarnya. Mengapa demikian, walaupun acara tersebut dikemas secara menarik. Materi yang disampaikan cocok dengan karakter anak muda yang mengombinasikan tausiah dengan humor milenial.

Tapi tema yang bikin menohok adalah tema yang mengangkat tentang ‘Moderasi Beragama’. Kenapa saya bilang menohok, sebab istilah moderasi beragama atau moderasi Islam lebih pada upaya mengubah ajaran Islam ke arah liberal.

Sangat berbahaya jika moderasi beragama terus digaungkan lalu diterapkan dalam pendidikan. Moderasi beragama (Islam) justru malah akan menjadikan Islam dipahami oleh siswa secara tidak utuh. Istilah moderasi beragama justru bisa menggeser ajaran Islam itu sendiri.

Oleh karenanya, pernyataan  tentang ‘moderasi beragama’ pantas untuk dikritisi.

Bahaya dari ajaran moderasi Islam sendiri adalah mengandung tujuan menyingkirkan ajaran Islam yang dianggap radikal, dimana radikal dianggap tidak moderat. Dengan alasan moderasi, ajaran islam yang mereka anggap radikal dihilangkan dari kurikulum dan PAI bahakan direvisi.

Baca juga:  Sekolah Membiasakan Hijab, Dianggap Perundungan?

Setidaknya ada lima tema tersebut yaitu Akidah Akhlak, Al-Qur’an dan Hadis, Fikih, Sejarah Kebudayaan Islam, dan Bahasa Arab.  Revisi dilakukan untuk mengikuti perkembangan sains dan teknologi serta untuk menyesuaikan dengan nilai revolusi mental dan moderasi beragama.

Pada pertengahan Juli 2020, Kementerian Agama Republik Indonesia, melalui Ditjen Pendidikan Islam, mengeluarkan buku modul Membangun Karakter Moderat untuk MI, MTs, dan MA.  Dalam pengantarnya ditegaskan bahwa buku tersebut mengandung dua inti, yaitu moderasi agama dan revolusi mental.

Menurut Fahmi Lukman, buku tersebut patut dicermati.  Mantan Atdikbud RI untuk Mesir itu mengatakan, “Tampak ada upaya penggeseran dari pluralitas sosiologis ke pluralisme teologis/agama.”

Salah satu bukti pernyataan Lukman itu bisa ditemukan dalam buku tersebut untuk MI.  Pada halaman 42 ada dialog antara seorang ibu dan anaknya.

Anak bertanya, “Bu, jadi kita juga boleh mengucapkan Selamat Natal kepada umat Kristiani, ya?”  Ibunya pun menjawab, “Nak, meski kita berbeda agama, tapi kita semua adalah saudara. Jadi, harus saling menjaga, menghormati, menyayangi dan mengasihi.  Tante Greta juga selalu mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri, loh, ketika kita merayakannya.”

Padahal menurut Prof. Hamka, tradisi Perayaan Hari Besar Agama Bersama semacam itu bukan menyuburkan kerukunan umat beragama atau membangun toleransi, tetapi menyuburkan kemunafikan.  Fatwa MUI tahun 1981 tentang keharaman Perayaan Natal Bersama (PNB) pun terus digugat.

Baca juga:  Mie Kocok Ini Sempat Jadi Langganan Dedi Mulyadi, Si Penjualnya Masih Ingat Selera Dedi Mulyadi

Berkaitan dengan hal ini, Hamid Fahmy Zarkasyi bahwa liberalisasi ini terus berjalan.  Pengajar Filsafat Islam dan Direktur Pascasarjana UNIDA Ponorogo ini menambahkan, “Momentum perubahan kurikulum menjadi puncak dari itu (liberalisasi) secara akademik dan sosial.”

Lebih tegas, Ahmad Sastra menyampaikan, “Moderasi Islam menjadikan umat meragukan ajaran Islam, tidak bangga dengan agamanya, dan sinkretisme dengan pemikiran di luar Islam.” Jika demikian maka akan ada pengabaian terhadap aturan islam bahkan mungkin meninggalkannya. Bukankah ini berbahaya bagi generasi kita.

Kata wasathiyah yang kerap dihubungkan dengan moderat jelas berbeda maknanya. Jihad bukan terorisme. Khilafah bukan khilafahisme dan radikalisme. Itu penyebutan salah dan fatal.

Karena itu tidaklah mengherankan, atas nama moderasi, ajaran Islam yang dipandang membahayakan sekularisme/kapitalisme/liberalisme maupun sosialisme/komunisme dihilangkan, atau diarahkan sesuai dengan pandangan idelogi kapitalisme ataupun komunisme tersebut.

Semestinya pemerintah fokus pada persoalan utama dunia pendidikan, bukannya sibuk mengurusi radikal radikul. Begitu banyak persoalan yang sejak dulu sampai sekarang belum terselesaikan dan terus berulang, seperti tawuran pelajar yang baru-baru ini terjadi antara dua sekolah dikabupaten bandung.

Baca juga:  Uma Tohe Aululik Melakukan Upacara Kuru We Fohon di Beberapa Tempat Pemali

Yang pemicunya terkadang dari hal sepele. Maraknya pergaulan bebas, penyalahgunaan narkoba dan lain sebagainya yang terkadang membuat kita miris mengenai kondisi generasi saat ini yang semakin bebas karena jauh dari nilai-nilai islam, ditambah minimnya jam pelajaran agama disekolah-sekolah negeri membuat siswa tak banyak mengenal ajaran agamanya secara kaffah.

Kurikulum anti radikalisme tidaklah perlu , justru adanya kurikulum tersebut semakin membuka lebar jalan masuknya ide moderasi beragama ke tengah-tengah umat, khususnya pelajar/siswa.

Para pelajar tidak membutuhkan counter radikalisme, yang mereka butuhkan adalah sistem pendidikan yang berbasis aqidah islamiyah yang mampu mencetak mereka menjadi generasi cemerlang, Manusia-manusia cerdas dan bertakwa yang justru jauh dari gambaran radikal.

Sistem pendidikan yang kurikulumnya berasaskan akidah islam itulah yang seharusnya disusun dan diterapkan. Sebab yang menjadi tujuan dari pendidikan Islam adalah untuk membangun kepribadian Islam serta penguasaan ilmu kehidupan seperti matematika, sains, teknologi dan rekayasa bagi peserta didik.

Hasil belajar (output) pendidikan Islam akan menghasilkan pesarta didik yang kokoh keimanannya dan mendalam pemikiran Islamnya (tafaqquh fiddin). Pengaruhnya (outcome) adalah keterikatan peserta didik terhadap hukum Allah SWT (bertakwa). Dampaknya (impact) adalah tegaknya amar makruf nahi mungkar di tengah masyarakat, tersebarnya dakwah dan jihad ke penjuru dunia.

Wallahu alam bishowwab