Hukum Bercanda dalam Kaca Mata Islam

Hukum Bercanda dalam Kaca Mata Islam
Hukum Bercanda dalam Kaca Mata Islam. (Ilustrasi: bincangsyariah.com)

Porosmedia.comSebagai manusia pada umumya, bercanda sesantiasa menjadi hal yang lumrah di kalangan hidup bersosial manusia. Bahkan bercanda dapat meningkatkan rasa berkasih sayang sesama manusia, menghibur orang lain agar tersenyum bahkan tertawa.

Tapi, bagaimana pandangan Islam mengenai hukum “bercanda” ini?

Hukum Bercanda dalam Kaca Mata Islam

1. Canda tawa yang di anjurkan (sunnah)

Islam menganjurkan bercanda sewajarnya artinya bercanda yang bersih dari hal-hal yang dilarang syari’at yang dapat memperkeruh jernihnya akal, pikiran dan hati. Itu adalah sifat mulia.

Jika canda tawanya tidak berlebihan dan tidak melalaikan kita dari mengingat Allah, maka hal itu termasuk sunnah, dan para sahabat Rasulullah saw yang terdidik di madrasah kenabiannya, mereka saling bercanda namun jika mereka menghadap masalah serius, mereka adalah para lelaki sejati.

Al-Bukhari meriwayatkan dalam al-Adab al-Mufrad dengan sanadnya kepada Bakr bin Abdullah, dia berkata yang artinya : “Para sahabat Rasulullah saw (kadang bercanda dengan) saling melempar semangka, namun bila mereka sedang serius, maka mereka adalah para lelaku sejati.”

Yang di maksud hadits tersebut adalah hanya melempar dengan kulit semangkanya saja dan ini pun mereka lakukan sesekali untuk menghilangkan kejenuhan atau pada saat keadaan menuntut hal itu.

Baca juga:  Benarkah Haram Mendirikan Negara Seperti Nabi?

Jadi bagi seorang muslim yang ingin bercanda dengan perkataan ringan, pembicaraan yang manis dan tutur kata yang bijak, dia akan mampu menarik hati orang lain dengan perkataannya, dan kebaikan canda tawanya maka itu termasuk sunnah.

2. Canda tawa yang di larang (haram)

Canda tawa yang berlebihan dalam Islam di haramkan karena akan menyebabkan kerasnya hati, dapat menyakiti orang lain, menyebabkan kebencian, jatuhnya kewibawaan dan harga diri seseorang.

Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

“Jangan mendebat saudaramu dan jangan mencandainya, serta jangan menjanjikannya sesuatu lalu kamu menyelisihinya.”

Jadi suatu jalan yang akan menyebabkan seseorang terdzolimi (tersakiti) maka hukumnya haram meskipun itu bercanda.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *