Cerpen  

Cerpen Part 2: Musim Gugur di Hati Aisya

Cerpen Musim Gugur di Hati Aisya Part 2
Cerpen Musim Gugur di Hati Aisya Part 2. (Ilustrasi: via Wallpaperuse)

Porosmedia.com – Tulisan ini merupakan part ke-2 dari Cerpen “Musim Gugur di Hati Aisya. Untuk membaca part 1, silakan klik tautan berikut: Baca Part 1.

Part 2: Musim Gugur di Hati Aisya

Bara sudah memikirkan rencana untuk Sahira, Ia tahu Aisya akan marah besar jika Ia mencoba berdiskusi lagi soal rencana nya untuk mencarikan madu bagi dirinya. Untuk itu Ia diam-diam menyusun rencana bersama Sahira.

Bara menghubungi Sahira dan mengatakan agar Sahira memberitahu Aisya jika mereka sudah dekat.

“Bu, hari ini saya janji bertemu dengan pak Bara,” ucap Sahira.

“Oh ya? Bagaimana, apa Bara sudah terlihat tertarik padamu?” ucap Aisya.

“Hmmm.. Entahlah, Bu. Saya tak bisa bercerita banyak,” ucap Sahira.

“Saya pergi siang ini bu,” ujar Sahira.

Aisya mengangguk.

Sahira menunggu Bara di sebuah resto mewah yang sepi pengunjung, Bara menggunakan kacamata hitam.

“Sahira, aku sudah punya rencana, dan kukira rencana ini akan berhasil,” Bara mengawali pembicaraan.

Sahira menyimak dan tak banyak bicara.

Baca juga:  Markotop dan Kemetak: Anak Nakal Dipondokkan di Pesantren

“Kamu harus bercerita pada Aisya bahwa kita sudah dekat, bahkan berencana untuk menikah, kau harus meyakinkan Aisya, lalu kamu lihat bagaimana reaksi nya, apa dia benar-benar sudah siap di madu,” ujar Bara.

Sahira terdiam sesaat.

“Hmmm.. Aku tak tahu benar, apakah Bu Aisya hati nya benar-benar sudah siap untuk menerima kehadiran istri kedua, atau dia hanya bingung dan panik dengan perasaan sendiri, tentang hasil tes dari dokter yang menyatakan jika dia tak mungkin bisa punya anak,” ucap Sahira.

“Aku tahu Aisya sangat mencintai ku, aku ingin dia merasakan sendiri, menyadari perasaan hatinya, sadar dan kembali pada dirinya yang dulu,” Bara menarik nafas panjang.

“Haruskah kita melakukan ini pak, bapak yakin rencana ini akan berhasil?” ucap Sahira.

“Aku tahu sifat Aisya, dia tak akan pernah menyerah untuk mendapatkan apa yang diyakininya benar. Ambisi nya besar, maka dari itu kita harus menyadarkan nya,” ujar Bara.

“Kemungkinan terburuknya adalah Aisya ternyata memang ingin meninggalkan saya,” ucap Bara kembali.

Baca juga:  Markotop dan Kemetak: Santri Masuk Neraka

Sahira terdiam sesaat, lalu berkata “Baiklah pak, kita jalankan rencana ini, kita lihat bagaimana reaksi Bu Aisya,” ucap Sahira mantap.

Sahira kembali ke kantor Aisya membawa buket bunga cantik. Aisya dan Sahira saling berpandangan. Sahira mulai bersikap seolah Bara sudah mulai tertarik padanya.