Cerpen  

Cerpen: Musim Gugur di Hati Aisya

Cerpen Musim Gugur di Hati Aisya - Part 1
Cerpen Musim Gugur di Hati Aisya. (Ilustrasi: via Baylei)

Porosmedia.com, Cerpen Part 1 – Aisya keluar rumah, Ia duduk di teras ditemani secangkir teh herbal, Ia menatap langit yang cerah, sinar mentari pagi menghangatkan tubuhnya, mengusir gelisah yang sejak semalam bersemayam di hati nya.

“Pagi sayang,” ucap Bara sembari mencium rambut Aisya.

Bara, suami yang telah menemaninya dalam suka duka pernikahan selama 10 tahun.

“Selamat ulang tahun pernikahan sayang, I love You always.. to the universe and back,” ucap Bara sambil memeluk hangat tubuh Aisya.

Aisya tersenyum tipis “love you to sayang,” ucap nya berbisik.

“Nanti malam luangkan waktu untuk ku ya sayang, ada sesuatu yang mau aku sampaikan,” ucap Aisya tersenyum.

“Siap Bu Ratu, nanti aku akan pulang cepat,” ucap Bara.

Tak lama kemudian setelah Bara berpamitan pergi bekerja, Aisya duduk termenung, memikirkan keputusannya, sesuatu yang beberapa bulan ini telah Ia rencanakan dan Ia pertimbangkan.

Malam ini Ia akan berbicara pada Bara, suami yang sangat Ia cintai.

Menjelang malam, Bara dan Aisya memutuskan untuk duduk di sofa, cuaca dingin membuat Aisya merapatkan tubuhnya pada Bara, seperti namanya Bara, Ia bagaikan Bara api bagi Aisya, Bara yang penuh cinta dan kehangatan.

Baca juga:  Tuba Bin Abdurahim Pernah Jadi Sukarelawan Dwikora

“Sayang, hmmm.. Aku mau membicarakan sesuatu,” ucap Aisya masih dalam pelukan suaminya.

Aisya menggenggam erat tangan suaminya. “Mas, selama 10 tahun ini, kita sudah berusaha maksimal untuk memiliki buah hati, dokter sudah menentukan, bahwa aku tak akan pernah bisa punya anak,” air mata Aisya menetes.

“Kita sudah sering membicarakan ini, dan aku akan selalu bersama kamu, akan selalu mencintaimu apa adanya,” ucap Bara menatap Istrinya.

“Mas, aku tak mau menjadi beban bagimu, kamu berhak bahagia mas,” ucap Aisya sembari menangis.

“Aku sudah bahagia dengan mu Aisya, apa yang kau khawatirkan,” ujar Bara.

“Kau harus punya keturunan mas, dan aku tak bisa memberikannya,” Aisya terisak.

Bara diam, ia memeluk erat Aisya, istri yang amat disayanginya.

Selama 3 bulan terakhir ini, Aisya berfikir untuk mengakhiri hubungan pernikahannya, semata karena Ia amat menyayangi suaminya. Ia ingin membiarkan Bara memulai hidup baru, mencari pengganti dirinya, dan berharap semoga Bara bisa mempunyai anak dari wanita lain. Aisya ingin pergi dari kehidupan Bara.

Baca juga:  Cerpen : Kucing Luna

Namun Ia sadar, Bara tak akan menyetujui ide nya, Bara amat mencintai Aisya.