Anti Narkoba, Wajib Anti Liberalisme

Porosmedia.comBaru-baru ini muncul sebuah wacana akan adanya legalisasi ganja. Pelegalan tersebut mengandung maksud untuk kebutuhan medis atau rekreasi di Indonesia. Sebab beberapa negara pun sudah mulai melegalkan tanaman candu tersebut.

Beredarnya kabar tersebut, Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) RI Komjen Pol. Petrus Reinhard Golose menegaskan tidak ada pembahasan untuk legalisasi ganja.

Lebih lanjut, terkait tanaman kratom yang sempat menarik perhatian publik karena dianggap punya efek candu, pihaknya masih melakukan pendalaman. Apabila benar adanya wacana tersebut, tentu kita harus menolaknya. Sebab, apabila salah penyalahgunaan, selain berefek buruk bagi generasi, dalam Islam segala sesuatu yang memabukkan adalah haram apabila dikonsumsi.

Para pemangku kebijakan pun menyatakan penolakan keras terhadap narkoba, penanaman ganja dan perdagangan obat terlarang karena tahu bahaya besarnya bagi bangsa dan generasi. Bukankah beberapa tahun yang lalu pemerintah mengumumkan bahwa Indonesia darurat narkoba.

Angka prevalensi penyalahgunaan narkotika di Indonesia pada survei tahun 2015 saja mencapai 2,20 persen atau lebih dari 4 juta orang, yang terdiri atas penyalah guna coba pakai, teratur pakai, dan pecandu. Bahkan begitu daruratnya, 50 orang mati karena narkoba. Tahun 2022 saat ini apa kabarnya? Tidak bisa dibayangkan berapa jumlahnya jika pelegalan ini terjadi.

Baca juga:  Dunia Sibuk Bela Ukraina, Kezaliman di Palestina Semakin Merajalela

Penolakan oleh pejabat memang harus dilakukan, namun mengapa tidak menyadari bahwa induk beragam kerusakan tersebut adalah terus ditumbuh suburkannya liberalisme. Paham kebebasan yang menyerang semua lini kehidupan termasuk penyalahgunaan narkoba dikalangan generasi muda membuat mereka kehilangan arahnya atas nama kebebasan.

Kejahatan narkoba adalah buah dari sistem sekularisme-kapitalisme yang mendasarkan prinsip perbuatan berdasarkan asas manfaat. Standar manfaat itu kemudian melahirkan gaya hidup hedonis (serba boleh) dan memuja kenikmatan jasmani tanpa mau terikat dengan aturan syariat ilahi.

Doktrin liberalisme mengajarkan, setiap orang harus diberi kebebasan mendapatkan kenikmatan setinggi tingginya. Sebagai barang pemuas kebutuhan manusia, dalam pandangan liberal narkoba pun tidak harus diharamkan selama itu menguntungkan dari sisi ekonomi dan dibutuhkan oleh pasar. Belum lagi didukung oleh menjamurnya tempat-tempat hiburan malam dan jenisnya yang saling berkaitan erat dengan narkoba.

Belum lagi dampak buruk yang ditimbulkan dari penyalahgunaan narkoba selain menimbulkan kerugian bagi dirinya sendiri dan masyarakat, justru sering kali menimbulkan kejahatan.

Adanya UU nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika pun, ternyata UU itu tak mampu mengatasi persoalan-persoalan narkoba ini. Tak heran UU tersebut pun banyak yang mempermasalahkan. Bahkan beberapa kalangan mendesak pemerintah dan DPR untuk segera merevisi UU tersebut.

Baca juga:  Tolak Sepenuhnya Kampanye L6BTQ+ !

Tentu saja itu terjadi, makin akutnya kejahatan narkoba disebabkan penanganan yang salah dan penegakan hukum yang lemah serta hukuman yang tidak memberikan efek jera bagi si pelaku.

Begitu lah penampakannya ketika negara dibingkai oleh akidah sekularisme yang memisahkan agama maka sempurnalah kerusakan. Tatanan kemuliaan hidup masyarakat pun makin terancam. Maka jelaslah bahwa akar masalah narkoba itu adalah pandangan hidup sekularisme Kapitalisme dan liberalismenya sebagai turunannya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *